kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Meski restrukturisasi kredit bisa naik, Samuel Sekuritas merekomendasikan buy BBCA


Kamis, 11 Juni 2020 / 21:50 WIB
Meski restrukturisasi kredit bisa naik, Samuel Sekuritas merekomendasikan buy BBCA
ILUSTRASI. Bank Central Asia (BBCA) memiliki pipeline restrukturisasi kredit hingga Rp 82,6 triliun per pertengahan Mei 2020


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang berdampak pada perputaran roda ekonomi, membuat peminjam mengajukan restrukturisasi kredit kepada perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, memiliki pipeline restrukturisasi kredit hingga Rp 82,6 triliun per pertengahan Mei 2020. Jumlah tersebut setara 13,8% dari total kredit.

Dalam riset tanggal 8 Juni 2020, Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, skenario terburuk restrukturisasi yang dapat terjadi adalah Rp 183 triliun atau 30% dari keseluruhan kredit yang digelontorkan BCA. "Namun, diperkirakan yang berpotensi direstrukturisasi adalah Rp 122 triliun atau 20% dari total kredit," tulis Suria, Senin (8/6).

Menurut Suria, skema restrukturisasi pada bank berkode saham BBCA ini dapat berupa perpanjangan jangka waktu pinjaman dan penundaan pembayaran pokok pinjaman. Bahkan, ada juga peminjam yang mengajukan penundaan pembayaran pokok sekaligus bunga pinjaman.

Baca Juga: BCA: Restrukturisasi tanpa pencadangan adalah kamuflase

Apabila dilihat per segmennya, sebesar Rp 61,8 triliun atau 13,7% dari kredit bisnis (korporasi serta komersial dan UMKM) telah direstrukturisasi. Sementara itu, kredit konsumer yang telah diajukan penangguhannya mencapai Rp 20,8 triliun atau 13,4%.

Sebagai informasi, per Maret 2020, sebesar 42,5% dari total kredit BBCA adalah kredit korporasi, lalu 31,2% kredit komersial dan UMKM, serta 25,3% kredit konsumer. "Untuk kredit konsumer, mayoritas  restrukturisasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) adalah dengan meminta perpanjangan jangka waktu," kata Suria.

Kemudian, jumlah peminjam yang kreditnya direstrukturisasi mencapai 71.900 orang, terdiri dari 1.200 debitur kredit bisnis dan 70.700 debitur kredit konsumer. Menurut Suria, jumlah debitur yang kreditnya direstrukturisasi bakal bertambah dalam beberapa bulan ke depan menjadi sekitar 250.000-300.000 yang kebanyakan berasal dari KKB motor dan mobil.

Baca Juga: Perbankan Tetap Siapkan Tambahan Pencadangan

Dengan adanya restrukturisasi kredit dan potensi penambahannya, Suria merevisi ke bawah proyeksi besaran pendapatan dan laba bersih BCA untuk tahun 2020. Pasalnya, restrukturisasi kredit ini bakal menurunkan pendapatan bunga BCA.

Proyeksi pendapatan bunga bersih BBCA untuk 2020 diturunkan 10,8% dari Rp 56,47 triliun menjadi Rp 50,39 triliun. Kemudian, proyeksi laba bersih diturunkan 25,6% menjadi Rp 24,18 triliun dari sebelumnya Rp 32,51 triliun.

Alhasil, laba bersih tahun ini bakal turun 15,4% dari realisasi laba bersih 2019 yang sebesar Rp 28,57 triliun. Meskipun begitu, Suria memprediksi, laba bersih BCA akan kembali tumbuh pada 2021 dengan kenaikan 27,3% menjadi Rp 30,78 triliun.

Baca Juga: BCA umumkan nilai akuisisi Rabobank naik dari Rp 397 miliar jadi Rp 500 miliar

Oleh karena itu, dia merekomendasikan buy BBCA dengan target harga Rp 32.000 per saham (3,8x PBV FY21F). Suria mempertimbangkan adanya roll over pendapatan dan laba bersih ke 2021 dan memperhitungkan penyesuaian BV per share (BVPS) karena implementasi PSAK 71.

Suria memprediksi, BVPS BBCA pada 2020 adalah sebesar Rp 7.422 dan Rp 8.425 pada 2021. Per perdagangan Kamis (11/6), harga BBCA berada di level Rp 28.400 per saham atau merosot 15,03% sepanjang tahun ini.

Baca Juga: Ini alasan, Maybank Kim Eng menyarankan jual saham Bank Central Asia (BBCA)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×