Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar saham yang tengah lesu saat ini membuat imbal hasil dividen bisa menjadi salah satu pelipur lara para investor yang portofolionya memerah.
Hari ini, Kamis (27/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 120,73 poin atau 1,83% ke 6.485 ke 6.485,44 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Arus dana asing keluar dari pasar saham tercatat mencapai Rp 1,78 triliun.
IHSG juga sudah turun 8,40% sejak awal tahun 2025 alias year to date (YTD). Aliran keluar dana asing tercatat sebesar Rp 15,42 triliun secara YTD.
Di tengah kondisi pasar yang lemah, emiten yang konstan memberikan dividen bisa menjadi pilihan investor. Namun, pasar pun juga bingung lantaran kinerja Indeks High Dividend20 (IDXHDIV20) sudah terkoreksi 10,19% YTD.
Baca Juga: Duh, Defisit APBN Berpotensi Melebar Imbas Setoran Dividen 7 BUMN Masuk ke Danantara
Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan melihat, kinerja harian IDX HDIV20 dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti dinamika makroekonomi, terutama kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan pemerintah.
Bank Indonesia (BI) tengah mempertahankan suku bunga acuan pada level yang relatif tinggi untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas rupiah. Namun, suku bunga tinggi ini berpotensi menekan daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
“Hal itu pada akhirnya dapat membebani kinerja saham-saham dividen tinggi, terutama di sektor perbankan dan konsumer,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/2).
Selain itu, juga ada kebijakan Danantara yang menjadikan investor masih wait and see dampaknya ke pasar. Sementara, sentimen dari luar berasal dari ketidakjelasan kebijakan suku bunga The Fed serta perlambatan ekonomi China menekan aliran modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.
“Pelemahan pasar saham dan IDX HDIV20 juga terpengaruh downgrade rating dari Morgan Stanley,” paparnya.
Felix menjelaskan, IDX HDIV20 terdiri dari 20 saham dengan dividen tinggi yang sering dianggap menarik bagi investor mencari pendapatan stabil.
Di tengah kondisi pasar lesu, saham-saham dengan dividen tinggi dapat menawarkan imbal hasil lebih konsisten dibandingkan saham yang mengandalkan pertumbuhan harga.
“Namun, relevansi sebagai acuan investasi bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi individu,” ungkapnya.
Baca Juga: 3 Saham Blue Chip Ini Diprediksi Bayar Setor Dividen Rp 97 T, Cek yang Bagus Dibeli!
Lesunya pasar juga dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham undervalued dengan fundamental kuat, termasuk konstituen IDX HDIV20.
“Asalkan dilakukan dengan analisis mendalam dan pertimbangan risiko yang matang,” katanya.
Menurut Felix, prospek kinerja masing-masing konstituen IDX HDIV20 pada tahun 2025 dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kinerja keuangan perusahaan, kondisi industri, dan ekonomi makro.
“Masuknya anggota baru dalam indeks pasca-rebalancing dapat membawa dinamika baru, baik positif maupun negatif, tergantung pada performa dan stabilitas dividen emiten tersebut,” ungkapnya.
Per Februari 2025, IDX HDIV20 juga baru melakukan kocok ulang alias rebalancing. Saham PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bank CIMB Niaga TBk (BNGA) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) masuk ke indeks ini.
Selain keempat saham itu, ada PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan terakhir ada PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Empat saham itu menggantikan posisi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Posisi PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga tersingkir dari indeks IDX High Dividend20.
Head of Investment Specialist PT Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman melihat, sejauh ini saham-saham IDX HDIV20 masih belum menunjukkan momentum positif. Secara pergerakan grafik juga memperlihatkan potensi penurunan yang masih berlanjut.
“Belum ada titik support yang menjaga penurunan untuk saham-saham, seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBCA dan TLKM,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/2).
Alhasil, saat ini ada baiknya investor masuk secara bertahap sambil menunggu hasil keputusan dividen dan RUPS di bulan Maret nanti, terutama untuk saham perbankan.
Di tengah kondisi seperti ini, Fath melihat sektor perbankan saat ini masih menarik secara imbal hasil dividen.
Sayangnya, tingginya dividend yield tidak menjamin suatu saham pergerakannya berhenti menurun. Artinya, dividend yield yang besar tak terlalu menghibur, karena portofolio investor masih merah dalam jangka waktu yang tidak tentu.
“Untuk bisa mitigasi risiko, ada baiknya pembelian secara bertahap,” paparnya.
Baca Juga: Potensi Dividen dan Buyback Berpotensi Memoles Kinerja Lesu Emiten Bank Besar
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila melihat, pembagian dividen bisa menjadi hal yang menarik untuk para investor walaupun portofolio mereka mengalami kerugian (loss).
Terkait imbas dividen emiten BUMN yang diinvestasikan ke Danantara, Indy melihat hal itu tak akan terpengaruh ke raihan investor retail
“Tapi, penting bagi investor untuk selektif memilih saham dan membeli saat harga rendah alias support,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (27/2).
Di sisi lain, kinerja IDX HDIV20 sebenarnya juga masih cukup tertekan juga. Sentimen negatif berasal dari keadaan baru-baru ini, yaitu MSCI yang memangkas peringkat pasar saham Indonesia. Selain itu, masih tingginya volatilitas pasar saham karena sentimen global juga memengaruhi kinerja indeks.
“Isu dari domestik datang dari pemantauan program-program kerja pemerintahan baru Indonesia yang masih perlu dipantau implementasinya,” katanya.
Emiten yang cukup menjadi pemberat datang dari perbankan seperti BBRI, BBCA, BBNI, BMRI yang turun cukup dalam.
”Sedangkan, emiten yang menjadi pendorong indeks adalah emiten dari sektor energi, seperti AKRA, UNTR, ITMG,” ungkapnya.
Menurut Indy, emiten-emiten di indeks IDX HDIV20 masih menarik untuk dikoleksi ketika pasar sedang lesu. Sebab, saham-saham ini konsisten membagi dividen dan juga menawarkan dividend yield yang tinggi, sehingga investor bisa mengambil momentum tersebut untuk mendapatkan dividen juga.
Untuk sekarang, IDX HDIV20 masih dibayangi oleh ketidakpastian pasar. Namun, prospek dari masing-masing emiten ini masih perlu dipantau secara fundamentalnya yang masih kuat dan dapat mendorong kinerja indeks.
“Ada beberapa saham yang memiliki potensi untuk tumbuh seperti PGAS, JPFA, INDF,” tuturnya.
Indy pun menyarankan investor untuk memilih sejumlah saham dengan price to earning ratio (PER). Yaitu, ASII dengan target harga Rp 5.000 per saham,AKRA Rp 1.460 per saham, UNTR Rp 26.000 per saham, dan ACES Rp 800 per saham.
Selanjutnya: Marisco Indo Market Buka Gerai Baru di Doha, Qatar
Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca Jakarta Besok (28/7): Dari Cerah hingga Diguyur Hujan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News