kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Mengukur Profitabilitas dan Potensi Dividen Blibli (BELI) menjelang IPO


Kamis, 27 Oktober 2022 / 12:52 WIB
ILUSTRASI. Direksi PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) alias Blibli saat paparan publik penawaran umum perdana saham di Jakarta, Selasa (19/10).


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Yudho Winarto

Selain itu, rasio utang terhadap ekuitas alias debt to equity ratio (DER) sebesar 0,82 kali, yang mencerminkan BELI memiliki kinerja yang cukup sehat dan memiliki aset dan ekuitas positif.

Semakin rendah rasio DER, maka profitabilitas perusahaan dan kemampuan untuk membayar utangnya diproyeksikan meningkat.

Umumnya, DER berbanding terbalik dengan dividen. Semakin rendah tingkat DER, maka komposisi utang semakin rendah, yang berpengaruh pada semakin tingginya kemampuan emiten untuk membayarkan dividend payout ratio (DPR) kepada pemegang saham. Sehingga rasio pembayaran dividen semakin tinggi.

Sehingga, rasio DER yang rendah akan menambah tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan, yang berakibat terhadap tingginya minat investor untuk berinvestasi.

Berdasarkan hal tersebut, manajemen Blibli optimistis kinerja keuangan akan terus tumbuh seiring upaya mendongkrak profitabilitas melalui berbagai pengembangan dan sinergi bisnis di dalam ekosistem omnichannel milik Blibli.

"Integrasi dan sinergi Blibli, tiket.com dan Ranch Market diproyeksikan akan menciptakan bisnis yang berkelanjutan dan berlaba positif dalam waktu singkat," kata CEO PT Global Tiket Network (tiket.com) George Hendrata.

Baca Juga: Kehadiran Blibli (BELI) Bisa Jadi Angin Segar di Bursa Saham

Potensi bisnis e-commerce, perjalanan dan gaya hidup (travel dan lifestyle), serta ritel kebutuhan sehari-hari (grocery retail) disebut sangat besar.

Survey Euromonitor dan Frost & Sullivan mengungkapkan potensi ketiga segmen bisnis tersebut pada tahun 2025 dapat mencapai US$ 436 miliar atau setara Rp 6.746 triliun (dengan asumsi kurs Rp 15.474 per dolar AS).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×