kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Mengapa valas Asia tak bertenaga terhadap dollar?


Rabu, 24 Oktober 2012 / 17:13 WIB
Mengapa valas Asia tak bertenaga terhadap dollar?
ILUSTRASI. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberikan pidato di Exeter College Construction Centre, Inggris, Selasa (29/9/2020).


Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

MANILA. Mayoritas mata uang Asia melemah pada transaksi perdagangan hari ini (24/10) versus dollar AS. Kali ini, peso Filipina mencatatkan pelemahan terbesar.

Berdasarkan data Bloomberg, peso melemah 0,1% menjadi 41,363 per dollar. Sementara, ringgit Malaysia melemah 0,1% menjadi 3,0598, dan baht Thailand melemah 0,1% menjadi 30,77.

Di negara Asia lainnya, won Korea Selatan juga melemah 0,1% menjadi 1.103,74 dan dollar Taiwan melemah 0,1% menjadi NT$ 29,342. Sedangkan posisi dong Vietnam tak banyak mencatatkan perubahan di level 20.848.

Sementara itu, rupiah Indonesia juga tak bertenaga dengan melemah 0,1% menjadi 9.613 per dollar AS.

Pelemahan mata uang Asia pada hari ini seiring kecemasan investor mengenai krisis utang Eropa yang semakin memburuk. Kondisi itu akan berdampak pada outlook eksportir Asia, sehingga memangkas permintaan aset-aset berisiko.

"Investor mulai ragu mengambil risiko. Sebab, kecemasan mengenai permasalahan Eropa masih belum hilang," jelas Sim Moh Siong, currency strategist Bank of Singapore Ltd.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tsutomu Soma, manager of investment trust and fixed income business Rakuten Securities Inc di Tokyo. Dia bilang, investor mencemaskan mengenai perlambatan ekonomi global. "Hal ini akan berdampak pada outlook ekspor Asia dan memberatkan pergerakan mata uang regional," paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×