Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan, pengumuman MSCI lebih bersifat sentimen jangka pendek-menengah, bukan perubahan fundamental pasar untuk jangka panjang.
Sentimen MSCI biasanya akan terasa bagi IHSG hingga periode tanggal efektif dan beberapa minggu setelahnya, mengingat di situlah terjadi penataan ulang portofolio investor global.
Setelah itu, para pelaku pasar akan kembali fokus ke faktor utama seperti arah suku bunga global, stabilitas rupiah, dan kinerja emiten.
"Artinya, peluang rebound tetap ada, tetapi lebih ke saham-saham dengan likuiditas kuat, free float besar, dan fundamental yang solid," imbuh dia, Selasa (21/4).
Baca Juga: IHSG Melemah 0,46% ke 7.559 pada Selasa (21/4/2026), DSSA, BREN, BBRI Top Losers LQ45
Hendra memproyeksikan IHSG dapat bergerak di kisaran 7.300--7.700 dengan risiko koreksi jika tekanan global meningkat.
Namun, untuk akhir 2026, peluang IHSG untuk menuju area 7.800--7.900 masih terbuka, sejalan dengan asumsi stabilisasi makro dan keberlanjutan reformasi pasar.
Dalam fase seperti ini, pendekatan terbaik yang bisa diambil investor adalah fokus pada saham dengan kualitas fundamental, likuiditas tinggi, serta memiliki katalis domestik maupun global yang jelas.
"Sementara untuk saham-saham dengan volatilitas tinggi akibat isu struktur kepemilikan, lebih cocok untuk trading jangka pendek dengan disiplin risk management yang ketat, bukan untuk posisi investasi agresif jangka panjang," terang Hendra.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda melihat, setelah sentimen MSCI mulai mereda, perhatian pasar akan kembali bergeser ke faktor yang lebih besar, yaitu perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga komoditas global, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terutama arah suku bunga dan stabilitas rupiah, serta rilis laporan keuangan emiten kuartal berjalan.
Baca Juga: IHSG Rentan Volatil, Cermati Saham Rekomendasi Analis pada Sepekan Ini
Alhasil, arah IHSG selanjutnya akan lebih ditentukan oleh kombinasi faktor-faktor tersebut.
"Jika tensi geopolitik mereda, harga komoditas tetap terjaga, BI menjaga stabilitas, dan kinerja emiten sesuai ekspektasi, maka peluang rebound pasar masih cukup terbuka," tutur dia, Selasa (21/4).
Reza pun memprediksi IHSG berpotensi bergerak di kisaran 7.600-8.000 hingga akhir semester I-2026.
Sedangkan pada semester II-2026, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan ke area 8.000–8.500 dengan asumsi kondisi global lebih kondusif, rupiah stabil, suku bunga acuan mulai mendukung arus dana masuk, serta regulasi MSCI dan proses rebalancing berikutnya berjalan lebih lancar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













