kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Menanti pasar obligasi ramah lingkungan dalam negeri

Rabu, 11 Juli 2018 / 09:15 WIB

Menanti pasar obligasi ramah lingkungan dalam negeri
ILUSTRASI. Pencatatan green bond PT SMI di BEI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pilihan investasi obligasi kian beragam. Sejumlah perusahaan mulai menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan, atau yang beken disebut green bond, dalam beberapa waktu terakhir.

Terbaru, PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) menerbitkan green bond berdenominasi rupiah senilai Rp 500 miliar. Obligasi ini diterbitkan dalam dua seri, dengan tenor tiga tahun dan lima tahun.

Kemarin, SMI mencatatkan obligasi hijaunya tersebut di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini menjadikan SMI sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mencatatkan instrumen tersebut di dalam negeri.

Sebenarnya, sebelum SMI, sudah ada beberapa perusahaan swasta Indonesia yang menerbitkan green bond, namun secara global. Misal, Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd merilis green bond US$ 650 juta di Amerika Serikat (AS) pertengahan April lalu. Lalu lembaga keuangan Tropical Landscape Finance Facility (TLFF) merilis green bond sebesar US$ 95 juta pada akhir Februari lalu.

Analis Obligasi BNI Sekuritas Ariawan menilai, green bond memiliki daya tarik tersendiri berupa underlying yang berbentuk proyek berwawasan lingkungan. Ia juga menganggap likuiditas tidak menjadi masalah besar bagi green bond.

"Memang saat ini jumlahnya masih minim. Namun ia yakin, seiring berjalannya waktu, perusahaan yang menerbitkan green bond akan makin banyak. Cepat atau lambat likuiditasnya akan sama seperti obligasi korporasi," kata dia, Selasa (10/7)

Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menambahkan, risiko green bond pun relatif sama dengan obligasi konvensional. Cuma, minat investor atas penerbitan green bond di Indonesia tampaknya masih dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil yang ditawarkan. Mengingat tipikal investor di dalam negeri masih berorientasi pada perolehan imbal hasil.

Kondisi berbeda terjadi di luar negeri, utamanya di negara maju. Beberapa fund manager sudah punya kewajiban untuk mengisi portofolio investasinya dengan green bond. Di luar negeri, green bond mirip dengan instrumen berbasis syariah," lanjut Made.

"Untuk saat ini, permintaan green bond lebih banyak dari luar negeri. Selain memang punya kebutuhan pendanaan dalam bentuk dollar AS, antusiasme investor di luar negeri lebih tinggi," tutur Made.

Selain itu, karena terhitung baru, green bond yang masuk pasar lebih banyak diincar investor institusi.


Reporter: Dimas Andi
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

OBLIGASI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0585 || diagnostic_web = 0.3038

Close [X]
×