kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Menangkap Peluang Investasi di Tengah Risiko Global, Berikut yang Perlu Dicermati


Rabu, 23 Februari 2022 / 13:39 WIB
ILUSTRASI. Pasar modal.


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar modal Indonesia terus menunjukkan arah positif dalam dua bulan pertama tahun 2022. Dengan kebijakan kenaikan suku bunga The Fed yang sudah di depan mata serta ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina, investor dinilai harus punya strategi untuk menghadapi berbagai kondisi tersebut.

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menyebut kondisi tersebut menjadi momen penting bagi investor. Ia bilang, saat ini memang ada kabar bahwa The Fed memberikan sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat dan sinyal pengurangan neraca (quantitative tightening). 

Seiring perubahan arah kebijakan ini, antisipasi pasar terhadap jumlah kenaikan suku bunga menjadi semakin agresif, berada pada kisaran kenaikan 4-5 kali di tahun 2022. 

Namun, menurutnya, dalam memutuskan kebijakan, The Fed akan tetap mengacu pada data ekonomi. Artinya keputusan menaikkan suku bunga akan tetap didasari pada perkembangan data perekonomian terkini, terutama terkait inflasi, arah pertumbuhan ekonomi, dan pandemi COVID-19.

“Sangat wajar jika terjadi sedikit volatilitas pasar pada periode kenaikan suku bunga The Fed.  Namun stabilitas makroekonomi Indonesia saat ini yang jauh lebih baik dibandingkan dengan data-data periode kenaikan suku bunga The Fed di masa lalu, membuat Indonesia jauh lebih kuat dalam menghadapi kenaikan ini,” jelas dia dalam keterangan resmi, Rabu (23/2).

Baca Juga: IHSG Naik 0,35% ke 6.885,78 di Sesi I, Asing Koleksi Saham BBCA, BBRI, dan BBNI

Di satu sisi, perhatian dunia juga tengah berfokus pada ketegangan antara dua negara, yaitu Rusia dan Ukraina. Freddy menyebut, perkembangan invasi Rusia ke Ukraina menjadi salah satu risiko yang harus diwaspadai, karena dapat menimbulkan peningkatan volatilitas di pasar finansial dunia. 

Sebagai negara penghasil komoditas, baik di bidang pertambangan maupun pertanian - terutama gandum, invasi Rusia ke Ukraina dapat menambah beban pada meroketnya inflasi dunia.

Mencermati risiko dan menangkap peluang yang ada, Freddy mengatakan bahwa perbaikan fundamental ekonomi Indonesia berperan sebagai penopang sentimen di pasar saham domestik. 

Kesiapan Indonesia dalam menghadapi perubahan kebijakan moneter dan fiskal di tahun ini ditunjukkan oleh aliran dana asing yang masuk secara stabil ke pasar saham Indonesia. 

“Optimisme pemulihan aktivitas ekonomi, fundamental ekonomi yang semakin baik, stabilitas nilai tukar rupiah, serta pendekatan investor yang forward looking past pandemic mendorong masuknya aliran dana asing di pasar saham Indonesia,” imbuhnya.

Sementara itu, ia bilang bahwa pasar obligasi Indonesia juga sudah lebih siap dalam menghadapi volatilitas eksternal. Kondisi fundamental yang suportif tercermin dari imbal hasil riil yang tinggi, defisit neraca berjalan yang mengecil, cadangan devisa yang meningkat, likudiitas domestik yang memadai, dan pasokan yang terkendali.

Oleh karena itu, ia menyarankan investor harus melakukan diversifikasi portofolio investasi di tengah kondisi saat ini. Investasi pada kedua instrumen, baik saham maupun obligasi, akan menjaga risk-return portofolio investor. 

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham MDKA, ADHI, BBCA, dan LPKR dari MNC Sekuritas Berikut Ini

Saham dapat menjadi performance kicker yang didukung oleh potensi pemulihan ekonomi, sedangkan obligasi dapat memberikan kinerja yang lebih moderat dengan risiko yang lebih rendah.   

“Keduanya sebaiknya dimiliki oleh investor sebagai diversifikasi aset pada portofolio di tengah kondisi global yang fluktuatif. Investor tetap disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio dengan porsi yang sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor,” tutup Freddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×