kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menakar prospek emiten industri dasar yang melorot 10,27% sejak awal tahun


Selasa, 07 Mei 2019 / 14:50 WIB

Menakar prospek emiten industri dasar yang melorot 10,27% sejak awal tahun

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan sejak awal bulan. Saham sektor industri dasar dan kimia tercatat turun dalam. Berdasarkan data dari bursa efek, per hari ini, Selasa (7/5) sektor saham ini turun 2,05%. Sementara jika dihitung dari awal tahun sektor industri dasar dan kimia ini melorot hingga 10,27%.

Kepala Analis Oso Sekuritas Ike Widiawati mengatakan, penurunan sektor industri dasar ini sudah terjadi sejak awal tahun karena berbagai sentimen. Salah satunya, diperberat karena rontoknya saham-saham pakan seperti  PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) anggota indeks Kompas100, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) anggota indeks Kompas100.


"Selain itu juga PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) anggota indeks Kompas100 ini, dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), anggota indeks Kompas100 ini juga turut menjadi pemberat," jelas dia saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (7/5).

Menurutnya, khusus industri pakan ternak, pasar sudah mengambil langkah antisipasi sejak adanya isu penurunan harga unggas dan  naiknya pasokan sejak di bulan Maret.
Sehingga, sentimen negatif lebih kepada industri pakan ternak itu sendiri.

"Pasokan naik, harga ayam potong terus turun. Sehingga harga pemeliharaan menjadi lebih mahal," lanjut Ike.

Secara teori kinerja  keuangan pasti akan mengalami penurunan, sehingga pasar sudah mengantisipasi hal itu. "Apalagi sekarang terbukti dengan rilisnya laporan keuangan dari CPIN salah satunya walaupun pendapatan naik namun laba nya turun," tuturnya.

Senada Kepala Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang berpedapat, justru alasan utama kinerja saham sektor ini turun cukup dalam karena hasil kerja para emiten yang mengecewakan.

"Result kinerja keuangan utama Top Line dan Bottom Line emiten perunggasan/pakan ternak ayam, emiten semen, emiten baja dan emiten kimia," katanya.

Tapi sejatinya, kinerja emiten di sektor ini masih memiliki prospek yang baik. Ike bilang, untuk sektor semen sebetulnya masih mencatatkan harga saham yang positif.
Misalnya, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR ) anggota indeks Kompas100, yang baru saja merilis pendapatan di kuartal I-2019 ini masih mencatatkan pendapatan.

Hanya saja, lanjut Ike ada kenaikan beban yang signifikan sehingga laba bersihnya tergerus cukup banyak. "Prospek semen tahun ini masih bagus, bahkan sektor konstruksi juga. Harusnya dengan banyaknya proyek dan perencanaan pembangunan kebutuhan semen akan semakin tinggi," jelas dia.

Apalagi wacana pemerintah untuk pemindahan ibu kota cukup memberikan sentimen positif. Jika hal itu  terealisasi artinya, akan banyak sekali pembangunan gedung baru dan itu sudah pasti akan meningkatkan permintaan semen.

Edwin pun berujar, emiten semen diprediksi akan bergerak naik setelah Juli ini, tergantung dari kinerja sektor properti. Begitu juga dengan emiten pakan ternak masih ada peluang di bulan puasa dan lebaran ini untuk menaikkan permintaan.

Kemudian untuk baja, Edwin memperkirakan, masih akan berat karena adanya persaingan dari baja asal China terutama soal harga dan bagaimana proyek sektor konstruksi. Sementara emiten kimia tergantung dari harga crude oil.

Ike pun bilang, saham pakan ternak ini berpeluang naik di bulan Ramadan mendorong harga ayam. "Namun kembali lagi ke komitmen pemerintah dalam stabilitas harga makanan jelang Ramadan jika berhasil ditekan kenaikan maka ya margin dari perusahaan unggas mestinya tidak akan signifikan naik,"  tutup dia.


Reporter: Sinar Putri S.Utami
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan


Close [X]
×