Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Saham-saham lapis kedua juga bakal terpapar oleh sentimen aliran dana asing, terutama jika kurs rupiah stabil dan investor global mulai kembali mengalokasikan dana ke emerging market.
"Untuk saham lapis kedua, katalis seperti rights issue, merger, akuisisi, divestasi, kontrak baru, ekspansi kapasitas atau perubahan struktur pemegang saham dapat memberikan rerating yang signifikan," ungkap Hari.
Arinda menyebut, dengan valuasi yang umumnya lebih murah dibandingkan saham-saham big caps, saham lapis kedua masih berpeluang menjadi penopang pasar.
Ini bisa terwujud ketika terjadi rotasi dari saham big caps menuju saham dengan fundamental dan valuasi yang lebih menarik.
Baca Juga: Kinerja Emiten Poultry Diproyeksi Positif, Cek Rekomendasi Saham CPIN, MAIN & JPFA
Dari sekian pilihan saham lapis kedua, Arinda menilai saham BRMS terbilang menarik berkat ekspansi produksi emas yang dapat menjadi katalis pertumbuhan laba. Selain itu, ada HRUM dan MBMA yang dapat diuntungkan dari segmen hilirisasi nikel.
Baik saham BRMS, HRUM, maupun MBMA dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 835 per saham, Rp 1.275 per saham, dan Rp 785 per saham.
Sementara menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, saham-saham lapis kedua di sektor perbankan digital dan kredit konsumen menarik untuk dicermati.
Selain itu, sektor barang konsumsi menengah dan kesehatan juga tetap prospektif mengingat permintaan yang inelastis terhadap volatilitas pasar.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (24/8), IHSG Diproyeksi Kembali Menguat
Terlepas dari itu, investor disarankan masuk secara bertahap dan selektif pada saham-saham lapis kedua yang memiliki katalis fundamental jelas. "Investor jangan hanya sekadar mengejar rebound teknikal pasca rebalancing indeks," imbuh dia, Senin (24/8).
Lantas, Abida merekomendasikan beli saham BBYB dengan target harga Rp 400 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














