kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.955   -87,00   -0,48%
  • IDX 6.345   25,38   0,40%
  • KOMPAS100 835   3,22   0,39%
  • LQ45 635   -0,11   -0,02%
  • ISSI 219   1,47   0,67%
  • IDX30 357   -0,16   -0,05%
  • IDXHIDIV20 437   -1,97   -0,45%
  • IDX80 95   0,26   0,28%
  • IDXV30 120   -0,17   -0,14%
  • IDXQ30 114   -0,06   -0,05%

Membangun Harga Acuan Komoditas Domestik Butuh Penguatan Price Discovery


Rabu, 05 Agustus 2026 / 09:31 WIB
Membangun Harga Acuan Komoditas Domestik Butuh Penguatan Price Discovery
ILUSTRASI. Pemerintah Aceh tetapkan harga TBS kelapa sawit (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia perlu memperkuat mekanisme pembentukan harga (price discovery) di dalam negeri agar harga referensi semakin mencerminkan kondisi pasar  nasional. Hal itu perlu memperkuat transparansi perdagangan komoditas nasional.

Posisi Indonesia sebagai produsen minyak saswit terbesar di dunia seharusnya menjadi modal untuk menghadirkan harga referensi yang lebih kredibel, dibangun melalui transaksi yang terbuka, kompetitif, dan berkesinambungan di bursa.

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, menegaskan harga referensi yang kuat tidak dapat dibentuk melalui penetapan sepihak, melainkan melalui proses price discovery yang mencerminkan interaksi riil antara penawaran dan permintaan.

"Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya. Dari proses inilah lahir harga referensi yang kredibel," ujar Yazid dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga: Volatilitas Global Angkat Transaksi Komoditas di JFX

Menurutnya, penguatan price discovery menjadi semakin mendesak karena hingga kini pelaku usaha masih mengandalkan benchmark internasional sebagai acuan harga. Padahal, sebagai produsen sawit terbesar dunia, Indonesia memiliki peluang sekaligus kepentingan untuk membangun referensi harga sendiri yang lebih mencerminkan dinamika pasar nasional.

Yazid menambahkan, semakin aktif transaksi dilakukan melalui bursa dengan kontrak terstandarisasi dan pencatatan yang transparan, semakin representatif harga yang terbentuk. Bagi Indonesia, memperkuat price discovery bukan sekadar membangun harga referensi, melainkan mempertegas kedaulatan dalam menentukan nilai komoditasnya sendiri.

Perdagangan minyak sawit dalam beberapa pekan terakhir bergerak dinamis. Pada pekan terakhir Juli 2026, harga acuan global Olein di FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) naik 3,52% menjadi US$ 1.175 per ton dari US$ 1.135 per ton pada pekan sebelumnya. Kenaikan dipicu oleh menguatnya harga minyak mentah Brent, meningkatnya permintaan dari China, serta ekspektasi pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat.

Di tengah kondisi tersebut, likuiditas perdagangan Olein di PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) tetap terjaga. Sepanjang 28 Juni–25 Juli 2026, volume transaksi mencapai 67.564 lot dengan nilai sekitar Rp 6,85 triliun.

Baca Juga: Transaksi OLEIN di JFX Melonjak di Bulan Mei

Yazid bilang, tingginya aktivitas transaksi mencerminkan proses price discovery yang semakin efektif melalui mekanisme perdagangan yang transparan. Semakin aktif transaksi berlangsung,  kata dia, semakin banyak informasi pasar yang tercermin dalam harga. “Bagi pelaku usaha, harga tersebut tidak hanya menjadi acuan transaksi, tetapi juga dasar pengelolaan risiko di tengah pasar yang sangat dinamis," ujarnya.

Menurut Yazid, volatilitas pasar komoditas global kini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pasokan, permintaan, harga energi, hingga kebijakan di berbagai negara. Karena itu, pelaku usaha membutuhkan harga referensi yang kredibel sebagai dasar menyusun strategi bisnis, menjaga margin, dan melakukan lindung nilai.

Selain Olein, aktivitas perdagangan komoditas lain di JFX juga tumbuh positif. Sepanjang Juli 2026, transaksi timah ekspor mencapai 2.855 lot senilai sekitar Rp2,66 triliun, meski harga acuan timah di London Metal Exchange (LME) hanya terkoreksi tipis 0,19% pada periode 19–25 Juli 2026.

Sementara itu, Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliun dengan volume lebih dari 3,92 juta lot. Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan di JFX sepanjang Juli 2026 mencapai sekitar Rp 3.268 triliun, mencakup transaksi multilateral, bilateral, dan PALN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×