kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.737.000   34.000   1,26%
  • USD/IDR 16.973   -20,00   -0,12%
  • IDX 9.135   0,83   0,01%
  • KOMPAS100 1.255   -8,26   -0,65%
  • LQ45 884   -8,74   -0,98%
  • ISSI 334   -0,41   -0,12%
  • IDX30 454   -1,06   -0,23%
  • IDXHIDIV20 538   0,43   0,08%
  • IDX80 140   -1,06   -0,76%
  • IDXV30 149   -0,12   -0,08%
  • IDXQ30 146   -0,09   -0,06%

Mayoritas Dana IPO Emiten Kakap Telah Terserap, Cermati Rekomendasi Analis


Selasa, 20 Januari 2026 / 20:41 WIB
Mayoritas Dana IPO Emiten Kakap Telah Terserap, Cermati Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Listing IPO emiten baru di BEI (KONTAN/Rashif Usman)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten lighthouse yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025 telah menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO).

Berdasarkan laporan tersebut, mayoritas emiten kakap itu tercatat telah menyerap sebagian besar dana IPO, terutama untuk kebutuhan modal kerja.

Misalnya, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) tercatat telah merealisasikan seluruh dana IPO yang diperoleh, masing-masing dengan nilai realisasi bersih sebesar Rp 212,23 miliar dan Rp 2,29 triliun.

Selanjutnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) telah menggunakan Rp 4,25 triliun, atau sekitar 93,57% dari total dana IPO sebesar Rp 4,54 triliun.

Baca Juga: BEI Ungkap Ada Perusahaan Konglomerasi Siap IPO, Ini Kondisi Pipeline 2026

Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) telah merealisasikan Rp 1,2 triliun, setara 51,27% dari total dana IPO yang dihimpun sebesar Rp 2,35 triliun.

Di sisi lain, masih terdapat emiten yang belum agresif merealisasikan dana IPO. SUPA, misalnya, baru menggunakan Rp 1,29 triliun dari total dana IPO sebesar Rp 2,73 triliun.

Adapun PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) hingga kini belum merealisasikan penggunaan dana IPO senilai Rp 595,67 miliar.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan percepatan realisasi dana hasil IPO yang dilakukan oleh mayoritas emiten pada dasarnya membawa sentimen yang relatif positif bagi pasar, terutama dari sudut pandang kredibilitas manajemen. 

"Langkah ini menunjukkan emiten tidak hanya menjual narasi pertumbuhan saat IPO, tetapi juga memiliki kesiapan eksekusi dan pipeline bisnis yang jelas," kata Alrich kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Bagi investor, realisasi dana yang cepat mengurangi kekhawatiran terkait idle cash dan memperkuat keyakinan bahwa dana segar tersebut diarahkan untuk ekspansi, peningkatan kapasitas, atau penguatan bisnis inti.

Baca Juga: BEI Ungkap Perusahaan Konglomerasi Siap IPO pada Tahun 2026, Ini Bocorannya

Meski demikian, dampaknya terhadap harga saham tidak selalu instan. 

Pasar cenderung menunggu bukti nyata dalam laporan keuangan, khususnya pertumbuhan pendapatan, perbaikan margin, dan arus kas. Artinya, sentimen positif ini lebih bersifat bertahap dan akan semakin kuat ketika realisasi dana IPO mulai memberikan dampak pada kinerja laba yang berkelanjutan.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi mengamini tingginya realisasi penggunaan dana IPO menjadi sentimen positif bagi emiten.

Ini mencerminkan agresivitas manajemen dalam mengeksekusi ekspansi, sekaligus meminimalkan risiko idle cash.

“Investor dapat mulai mengantisipasi munculnya arus pendapatan baru yang akan tercermin dalam laporan keuangan,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: Yupi Indo (YUPI) Belum Gunakan Dana IPO Rp 596,67 Miliar, Ini Catatan Analis

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menambahkan realisasi penggunaan dana hasil IPO pada dasarnya merupakan kewajiban tata kelola, sehingga dampaknya terhadap sentimen pasar relatif terbatas.

Investor institusi cenderung tidak hanya melihat seberapa cepat dana IPO diserap, melainkan apakah penggunaan dana tersebut mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan kinerja keuangan yang berkelanjutan baik dari sisi pendapatan, margin, maupun ekspansi bisnis. 

"Dengan kata lain, pemicu utama pergerakan harga saham tetap pada realisasi kinerja pasca IPO, bukan sekadar progres penyerapan dana," tambah Hari kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Sentimen Jangka Pendek

Alrich menerangkan emiten yang menyerap dana IPO masih rendah umumnya menghadapi tekanan sentimen dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kerap menafsirkan kondisi ini sebagai indikasi tertundanya proyek, belum jelasnya arah ekspansi, atau sikap manajemen yang terlalu konservatif di tengah ekspektasi pertumbuhan pasca IPO. 

Persepsi tersebut dapat membuat saham bergerak terbatas atau bahkan terkoreksi setelah fase euforia awal mereda. Namun dari perspektif jangka menengah hingga panjang, rendahnya penyerapan dana tidak selalu berarti negatif secara fundamental. 

Selama emiten memiliki fundamental yang solid dan rencana penggunaan dana yang jelas, situasi ini berpotensi menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang ketika valuasi saham sudah berada pada level yang lebih menarik.

Baca Juga: Pasar Saham Indonesia Diproyeksi Menguat pada 2026, Tantangan IPO Masih Membayangi

Wafi juga mengingatkan rendahnya penyerapan dana IPO berpotensi memicu sentimen negatif, karena dapat mengindikasikan ketidakpastian dalam perencanaan manajemen.

“Hal ini perlu dicermati agar dana IPO tidak sekadar mengendap di instrumen deposito,” tutur Wafi.

Disisi lain, Hari beranggapan rendahnya penyerapan dana IPO tidak serta-merta menjadi sentimen negatif, selama manajemen memiliki alasan strategis yang jelas, seperti menjaga likuiditas atau menunggu timing ekspansi yang lebih optimal. 

Pasar umumnya akan menilai disiplin manajemen dalam alokasi modal serta konsistensi strategi bisnis. Namun, dalam jangka pendek, minimnya katalis dari penggunaan dana dapat membuat pergerakan saham cenderung sideways atau volatil.

Prospek Saham

Wafi berpendapat emiten seperti EMAS dan CBDK paling prospektif. Pasalnya, realisasi dana EMAS mengindikasikan adanya penambahan aset atau kapasitas masif sehingga bisa mendongkrak laba jangka menengah. 

Sementara, CDIA dinilai menarik karena sisa dana bisa jadi bensin pertumbuhan di tengah ketatnya likuiditas 2026.

Sementara itu, Alrich berpandangan emiten IPO yang masih prospektif untuk dicermati dalam jangka menengah hingga panjang umumnya memiliki model bisnis yang jelas, berkelanjutan, dan mampu menciptakan pendapatan berulang.

Baca Juga: HSBC: Minim IPO Baru Bikin Pasar Modal Indonesia Tertinggal di Asia

Penggunaan dana IPO yang difokuskan pada penguatan bisnis inti, bukan diversifikasi agresif di luar kompetensi utama, menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pertumbuhan. 

Dari sisi valuasi, saham yang sudah keluar dari fase euforia IPO dan mulai diperdagangkan pada level yang lebih rasional sering kali menawarkan risk reward yang lebih seimbang, terutama jika prospek pertumbuhan laba ke depan masih terjaga.

Alrich memilih saham EMAS dengan target harga terdekat di Rp 6.800 hingga Rp 7.200 serta stoploss di bawah Rp 5.600 per saham. Adapun Wafi menyarankan trading buy saham EMAS dan CBDK, sementara saham IPO lainnya disarankan untuk wait and see.

Selanjutnya: Lawatan Prabowo ke Inggris Diharapkan Tingkatkan Kerja Sama Dagang Kedua Negara

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Olahraga Sebelum Makan, Ampuh Bakar Lemak Lebih Banyak!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×