Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Sentimen Jangka Pendek
Alrich menerangkan emiten yang menyerap dana IPO masih rendah umumnya menghadapi tekanan sentimen dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kerap menafsirkan kondisi ini sebagai indikasi tertundanya proyek, belum jelasnya arah ekspansi, atau sikap manajemen yang terlalu konservatif di tengah ekspektasi pertumbuhan pasca IPO.
Persepsi tersebut dapat membuat saham bergerak terbatas atau bahkan terkoreksi setelah fase euforia awal mereda. Namun dari perspektif jangka menengah hingga panjang, rendahnya penyerapan dana tidak selalu berarti negatif secara fundamental.
Selama emiten memiliki fundamental yang solid dan rencana penggunaan dana yang jelas, situasi ini berpotensi menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang ketika valuasi saham sudah berada pada level yang lebih menarik.
Baca Juga: Pasar Saham Indonesia Diproyeksi Menguat pada 2026, Tantangan IPO Masih Membayangi
Wafi juga mengingatkan rendahnya penyerapan dana IPO berpotensi memicu sentimen negatif, karena dapat mengindikasikan ketidakpastian dalam perencanaan manajemen.
“Hal ini perlu dicermati agar dana IPO tidak sekadar mengendap di instrumen deposito,” tutur Wafi.
Disisi lain, Hari beranggapan rendahnya penyerapan dana IPO tidak serta-merta menjadi sentimen negatif, selama manajemen memiliki alasan strategis yang jelas, seperti menjaga likuiditas atau menunggu timing ekspansi yang lebih optimal.
Pasar umumnya akan menilai disiplin manajemen dalam alokasi modal serta konsistensi strategi bisnis. Namun, dalam jangka pendek, minimnya katalis dari penggunaan dana dapat membuat pergerakan saham cenderung sideways atau volatil.
Prospek Saham
Wafi berpendapat emiten seperti EMAS dan CBDK paling prospektif. Pasalnya, realisasi dana EMAS mengindikasikan adanya penambahan aset atau kapasitas masif sehingga bisa mendongkrak laba jangka menengah.
Sementara, CDIA dinilai menarik karena sisa dana bisa jadi bensin pertumbuhan di tengah ketatnya likuiditas 2026.
Sementara itu, Alrich berpandangan emiten IPO yang masih prospektif untuk dicermati dalam jangka menengah hingga panjang umumnya memiliki model bisnis yang jelas, berkelanjutan, dan mampu menciptakan pendapatan berulang.
Baca Juga: HSBC: Minim IPO Baru Bikin Pasar Modal Indonesia Tertinggal di Asia
Penggunaan dana IPO yang difokuskan pada penguatan bisnis inti, bukan diversifikasi agresif di luar kompetensi utama, menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pertumbuhan.
Dari sisi valuasi, saham yang sudah keluar dari fase euforia IPO dan mulai diperdagangkan pada level yang lebih rasional sering kali menawarkan risk reward yang lebih seimbang, terutama jika prospek pertumbuhan laba ke depan masih terjaga.
Alrich memilih saham EMAS dengan target harga terdekat di Rp 6.800 hingga Rp 7.200 serta stoploss di bawah Rp 5.600 per saham. Adapun Wafi menyarankan trading buy saham EMAS dan CBDK, sementara saham IPO lainnya disarankan untuk wait and see.
Selanjutnya: Lawatan Prabowo ke Inggris Diharapkan Tingkatkan Kerja Sama Dagang Kedua Negara
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Olahraga Sebelum Makan, Ampuh Bakar Lemak Lebih Banyak!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













