kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Mata uang EUR terseret USD


Kamis, 13 Agustus 2015 / 17:42 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Antisipasi sejumlah data ekonomi Amerika Serikat membuat mata uang USD mampu menekan euro. Mengutip Bloomberg, Kamis (13/8) pukul 16.40 WIB, pasangan EUR/USD turun 0,37% ke level 1,1118.

Albertus Christian, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan pasangan EUR/USD dipicu oleh rebound dari sisi USD. Hal tersebut lantaran pergerakan mata uang ISD mengantisipasi rilis data retail sales bulanan yang diperkirakan naik menjadi 0,6% dari sebelumnya minus 0,3% data core retail sales yang diprediksi naik menjadi 0,4% dari sebelumnya minus 0,1%.

Di samping itu data unemployment claim diprediksi naik menjadi 272.000 dari sebelumnya 270.000. Namun demikian, data tersebut masih dianggap positif. "Data - data positif ini jika terbukti akan membuka peluang kenaikan suku bunga di bulan September," ujar Christian.

Di sisi lain, data ekonomi dari wilayah Eropa tak banyak mempengaruhi pergerakan euro. Berdasarkan data yang dirilis hari Rabu (12/8), industrial production di kawasan Eropa turun menjadi minus 0,4% dari sebelumnya minus 0,2%.

Selanjutnya pada Kamis (13/8) Jerman meliris data final CPI bulanan dengan hasil stabil di angka 0,2%, sedangkan CPI Prancis turun menjadi minus 0,4% dari sebelumnya minus 0,1%. "Data final CPI di kawasan Eropa masih tergolong rendah. Sementara dari sisi GDP hanya Jerman yang diperkirakan mampu menunjukkan pemulihan," lanjut Christian.

Christian mengatakan, di saat Amerika tengah bersiap untuk menaikkan tingkat suku bunga, di Eropa masih menahan kebijakan longgar. Maklum, inflasi di kawasan Eropa masih rendah di kisaran 0,2% dan diperkirakan baru akan naik secara bertahap tahun 2016.

Hal tersebut seiring dengan harga minyak yang berada di level rendah, mengingat salah satu komponen inflasi meliputi perkembangan harga energi dan pangan, termasuk minyak. Dengan melihat sejumlah data ekonomi yang ada, Christian memperkirakan pasangan EUR/USD akan melanjutkan pelemahan pada Jumat (14/8).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×