kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45903,33   4,58   0.51%
  • EMAS1.313.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Market Kripto Turun Jelang Rilis Data Inflasi AS, Intip Prospeknya ke Depan


Selasa, 14 Februari 2023 / 12:08 WIB
Market Kripto Turun Jelang Rilis Data Inflasi AS, Intip Prospeknya ke Depan
ILUSTRASI. Setelah naik tajam, market kripto kembali mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah naik tajam, market kripto kembali mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir. Pasar kripto kembali lesu karena menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Menurut data CoinMarketCap, harga Bitcoin (BTC) telah turun sekitar 5,91% dari kenaikan tertinggi pada bulan Januari lalu di level US$ 24.165. 

Pada Selasa (14/2) pukul 08.00 WIB, harga BTC terpantau berada di posisi US$ 21.771 dengan penurunan 4,44% dalam tujuh hari terakhir.

Tim Riset Tokocrypto mengatakan, penurunan dan volatilitas pasar kripto yang tinggi akhir-akhir ini disebabkan oleh kombinasi antara kekhawatiran investor atas peningkatan penegakan peraturan di Amerika Serikat dan data laporan Consumer Price Index (CPI) alias Indeks harga konsumen AS bulanan Januari 2023 yang akan mengukur tingkat inflasi.

Baca Juga: PBB Menaksir Nilai Pencurian Kripto oleh Korea Utara Mencapai US$630 Juta pada 2022

Disamping itu, investor tengah membukukan keuntungan setelah kinerja Bitcoin pada bulan Januari yang luar biasa.

Tndakan US Securities and Exchange Commission (SEC) terhadap Kraken dan Paxos Trust, serta rumor pelarangan staking kripto di AS dapat diterjemahkan menjadi penurunan lebih lanjut untuk Bitcoin dan pasar kripto yang lebih luas. 
Situasi itu mendorong investor untuk mulai melakukan aksi jual agar mendapatkan untung dari kenaikan harga di Januari lalu. 

"Akhirnya BTC mencapai penurunan dalam posisi terendah dalam tiga minggu terakhir," jelas Tim Riset Tokocrypto dalam siaran pers, Selasa (14/2).

Serangkaian kabar buruk tersebut cukup untuk kembali melemahkan harga kripto. Saat ini kemungkinan besar investor masih takut dan khawatir imbas dari perkembangan regulasi kripto di AS yang belum menunjukkan hal positif. 

Kendati demikian, sentimen pasar kripto dianggap masih terjaga dan stabil. Hal tersebut terlihat dari pergerakan sideways pada Bitcoin Fear and Greed Index di area level 48-58 masih dalam kategori Neutral.

Tim riset Tokocrypto menilai bahwa investor tengah bersiap menghadapi agenda penting yang diyakini akan menjadi pemicu terjadinya volatilitas tinggi pada pasar kripto yakni laporan CPI yang akan diumumkan Selasa, 14 Februari 2023, pukul 20.30 WIB. Naik atau turunnya CPI Januari 2023 ini menjadi salah satu indikator makro yang biasanya mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin.

Sejumlah lembaga memperkirakan CPI bulanan Januari 2023 naik di kisaran 0,5%. Bila prediksi ini benar, hal tersebut akan menandai kenaikan terbesar CPI bulanan dalam tiga bulan terakhir. 

Peningkatkan bulanan tersebut akan memperlambat tingkat kenaikan tahunan dari 6,5% pada Desember menjadi 6,2% pada Januari. Sedangkan core CPI diperkirakan akan naik 0,3% di Januari, lebih rendah 5,4% secara YoY berbanding 5,7% di bulan Desember.

Data CPI ini kerap menjadi indikator pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto lain. Bila CPI aktual lebih rendah dari perkiraan para ekonom, harga kripto biasanya akan mengalami kenaikan. Namun, bila kenaikan lebih tinggi atau sama dengan perkiraan, pasar kripto biasanya bereaksi negatif.

Baca Juga: Gaspack Hadirkan NFT Art Jakarta Gardens 2023

"Berdasarkan data perilisan CPI dalam enam bulan terakhir, ada korelasi kuat yang antara hasil prediksi CPI dengan pergerakan harga Bitcoin. Bila hasil CPI lebih rendah dari prediksi, harga BTC akan mengalami kenaikan. Sedangkan bila CPI sesuai atau melebihi prediksi, harga BTC dan market kripto akan turun," kata Tim Riset Tokocrypto.

Secara analisis teknikal, volatilitas Bitcoin dalam jangka pendek mungkin tetap tinggi dalam waktu dekat karena pelaku pasar menunggu data CPI. Menariknya, Bitcoin telah membuat golden cross pada daily chart dan death cross pada time frame mingguan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tren jangka menengah pergerakan harga Bitcoin tetap negatif, tetapi tren jangka pendek bisa menandakan perubahan haluan. 

Tekanan jual yang tinggi menjadi salah satu faktor penyebab terjadi penurunan harga Bitcoin. Hal tersebut terlihat dari penurunan yang terjadi pada relative strength index (RSI).

Tokocrypto melihat level support terkuat Bitcoin berada di posisi US$ 21.480 atau sekitar Rp 326 juta. Sementara, bila hasil CPI positif untuk BTC, akan membuka pintu untuk kemungkinan reli hingga US$ 23.500 atau setara Rp 357 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×