kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mang Amsi, dari guru madrasah di hutan belantara jadi investor saham syariah terkenal


Minggu, 25 Agustus 2019 / 14:17 WIB

Mang Amsi, dari guru madrasah di hutan belantara jadi investor saham syariah terkenal
ILUSTRASI. Perdagangan saham

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asep M. Saepul Islam yang kerap dipanggil Mang Amsi adalah founder Komunitas Saham Syariah yang lebih dari 10 tahun berjibaku di pasar modal, khusus berinvestasi di saham-saham syariah.

Slogan yang selalu diutarakannya saat seminar atau kelas adalah memasyarakatkan saham syariah dari belantara untuk nusantara. Tentunya slogan ini punya sejarah yang cukup panjang.

Dulu sebelum Mang Amsi mengenal pasar modal, ia adalah seorang guru bahasa Arab, tahfiz, dan fahmil Qur’an di Madrasah 3 Cianjur. Mang Amsi tinggal di Cianjur Selatan, rumahnya di tengah hutan belantara. Katanya perjalanannya menuju sekolah, harus melewati beberapa hutan yang gelap dan harus berangkat mendahului matahari.

Baca Juga: Simak tips aman berinvestasi saham ala founder komunitas Investor Saham Pemula

Awal mula ia berkenalan dengan pasar modal pada 2007.Ketika itu Mang Amsi baru berkeluarga. Momen yang membuatnya ingin tahu tentang investasi ketika mengantarkan orang tuanya mengambil dana pensiun. Di situ ia melihat banyak pensiunan yang gajinya tidak memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga banyak yang harus ditanggung oleh anak-anaknya.

Mang Amsi tidak mau seperti itu, ia ingin bisa menjadi orang tua yang mandiri bahkan tetap bisa memberi uang kepada anaknya kelak. Akhirnya ia mulai mencari di google tentang investasi dan instrumennya seperti apa. 

Mang Amsi mengakui terinspirasi dari sosok Eyang Soertman Doerachman yang usianya jauh lebih tua tapi masih bisa memberdayakan diri sendiri dari investasi. Akhirnya, Mang Amsi membuat langkah berani dengan berinvestasi di reksadana unitlink dan beberapa produk lainnya.

Setahun berinvestasi, ia harus ikhlas  menelan pahitnya merugi ratusan juta. Mang Amsi mengakui pada awal berinvestasi ia sporadis memilih portfolio sahamnya. Ia tidak mempertimbangkan risiko dan asal masuk ke saham yang diramalkan akan naik. Tapi nyatanya, investasi tidak semudah  hanya mengikuti rekomendasi.

Pada masa gelapnya karena merugi, “Saya jadi tukang dagang. Dagang apa saja, kayak produk herbal, buku, makanan ringan untuk menebus kebangkrutan. Walaupun modal saya cuma tersisa 20% tapi keinginan saya tetap kokoh untuk kembali berinvestasi,” ceritanya di perhelatan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2019, Sabtu (24/8).


Reporter: Arfyana Citra Rahayu
Editor: Herlina Kartika

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0024 || diagnostic_web = 0.1763

Close [X]
×