kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,90   15,53   2.01%
  • EMAS1.029.000 0,10%
  • RD.SAHAM -0.06%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.02%

MAMI: Efek virus corona ke Indonesia bisa meningkat jika China perpanjang libur lagi


Kamis, 13 Februari 2020 / 14:26 WIB
MAMI: Efek virus corona ke Indonesia bisa meningkat jika China perpanjang libur lagi
ILUSTRASI. Stan manajer investasi penerbit reksadana, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Diberlakukannya lockdown policy di beberapa wilayah di China akibat penyebaran virus corona dinilai memiliki dampak minim bagi perekonomian Indonesia. Ini karena dibandingkan negara lain, kontribusi sektor pariwisata Tanah Air terhadap data produk domestik bruto (PDB) relatif masih rendah. 

Namun,  eksposur Indonesia terhadap wabah ini berpotensi meningkat jika China memperpanjang lagi hari libur Imlek dan lockdown policy akibat penyebaran virus terus berlanjut dalam waktu lama. 

Senior Portofolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Caroline Rusli menjelaskan, dengan ketergantungan pariwisata yang tinggi terhadap PDB, khususnya dari kunjungan turis China akan mengalami dampak negatif yang lebih besar.

Baca Juga: Manulife Asset Manajemen: Vcorona bisa berdampak ke ekonomi global hingga dua kuartal

Namun, hingga saat ini kontribusi pariwisata Indonesia terhadap PDB relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara kawasan Asia lainnya, sehingga Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang memiliki eksposur relatif terbatas terhadap wabah virus corona. 

Caroline memaparkan, kontribusi pariwisata terhadap PDB Indonesia ±1,8% lebih rendah dibandingkan misalnya Thailand yang mencapai ±12% dari PDB. 

Namun, dampak yang dirasakan Indonesia terhadap wabah ini berpotensi meningkat jika China memperpanjang lagi hari libur Imlek dan lockdown policy

Sebab, "Kondisi tersebut dapat mengurangi aktivitas ekonomi dan mengakibatkan penurunan permintaan akan komoditas dan akitivitas ekspor impor," ungkap Caroline dalam keterangan resminya Kamis (13/2).

Berkaca dari pengalaman pandemi sebelumnya, Indonesia tidak terlalu terpengaruh dari SARS di tahun 2003 dan flu burung di tahun 2006-07 baik dari banyaknya kasus, korban jiwa ataupun performa kinerja pasar finansial dan nilai tukarnya. 

Baca Juga: Analis: Aset berisiko semakin menarik seiring perekonomian global yang membaik

Namun, jika pandemi ini berlangsung lebih lama dibandingkan perkiraan, maka sentimen risk-off dapat meningkat dan dapat memicu capital outflow dari pasar saham Indonesia. 

"Semakin cepat dan efektif pengendalian penyebaran virus maka dampaknya akan lebih positif terhadap perekonomian global dan Indonesia," tandasnya. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×