Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik geopolitik di Timur Tengah masih terus berlangsung dan telah menyulut harga komoditas energi ke level yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini menyulitkan emiten-emiten yang selama ini bergantung pada komoditas energi sebagai bahan baku produksi maupun operasional usaha.
Mengacu data Trading Economics, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 telah melesat 35,84% dalam sebulan terakhir ke level US$ 88,43 per barel hingga Rabu (25/3) 19.40 WIB.
Sejalan, harga minyak acuan jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 juga melambung 41,11% dalam sebulan terakhir ke level US$ 99,83 per barel. Bahkan, harga minyak Brent sempat menyentuh level US$ 112 per barel pada 20 Maret 2026.
Baca Juga: Saham Lapis Kedua Lesu di Awal 2026, Simak Prospek dan Rekomendasinya
Lonjakan harga minyak dunia tak lepas dari efek konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026. Kenaikan harga komoditas ini semakin sulit terkendali ketika Iran memblokade Selat Hormuz sebagai salah satu jalur distribusi utama minyak dan gas (migas) global.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, kenaikan tajam harga minyak dunia menciptakan tekanan pada sisi penawaran.
Dari situ sektor yang terdampak secara langsung adalah petrokimia dan manufaktur ban. Emiten-emiten di sektor ini terancam mengalami kontraksi margin lantaran harga naphta sebagai turunan minyak mentah melesat.
Selain itu, emiten sektor penerbangan juga sangat rentan tertekan seiring kenaikan harga avtur yang dapat berkontribusi sekitar 30%-40% dari total biaya operasional.
Tak hanya itu, emiten di sektor logistik dan fast-moving consumer goods (FMCG) juga akan terdampak secara tidak langsung lewat kenaikan biaya distribusi.
"Jika daya beli masyarakat melemah akibat inflasi energi, emiten sektor konsumer akan kesulitan menjaga volume penjualan," ujar dia, Rabu (25/3/2026).
Senada, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menyampaikan, tren kenaikan harga minyak dunia akan berdampak signifikan bagi emiten di sektor petrokimia, bahan kimia, pupuk, hingga penerbangan.
Harga energi yang tinggi akan mendongkrak biaya produksi dan operasional, sehingga berpotensi menekan margin jika kenaikan tersebut tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke harga jual.
Baca Juga: Cek Prospek Midi Utama (MIDI) Usai Raih Lonjakan Laba 45,01% pada 2025
Jika kondisi ini berlangsung cukup lama, terdapat risiko penurunan profitabilitas emiten yang bersangkutan pada 2026.
"Dalam beberapa kasus lonjakan harga energi bisa membuat ruang ekspansi menjadi lebih terbatas, karena emiten akan lebih fokus menjaga arus kas dan efisiensi," ungkap Ekky, Rabu (25/3/2026).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima menambahkan, secara umum tekanan margin bakal dirasakan emiten ketika harga minyak berada di atas level US$ 90 per barel. Jika harga komoditas ini melampaui level US$ 100 per barel, risiko penurunan laba emiten semakin besar.
"Kami pikir sebagian emiten bahkan belum siap jika harga minyak bertahan di level tinggi," imbuh dia, Rabu (25/3/2026).
Dari sisi mitigasi, emiten umumnya akan mengandalkan kombinasi strategi seperti penyesuaian harga jual secara bertahap, peningkatan efisiensi operasional, serta pengalihan produk dengan margin lebih tinggi.
Namun, efektivitas kenaikan harga produk atau jasa sangat bergantung pada kekuatan penetapan harga pada masing-masing sektor.
Setali tiga uang, David menganggap strategi menaikkan harga jual hanya efektif bagi emiten yang memiliki dominasi pasar atas produk inelastis atau produk dengan permintaan stabil meski ada penyesuaian harga, contohnya pupuk atau bahan kimia khusus.
"Bagi sektor penerbangan, menaikkan tarif jasa berisiko menurunkan jumlah penumpang secara drastis," tuturnya.
David menyarankan agar investor mengurangi bobot portofolio pada saham-saham yang bergantung pada komoditas energi dan beralih ke saham produsen energi seperti batubara dan migas yang justru diuntungkan oleh kondisi saat ini.
Baca Juga: IHSG Naik 2,75% pada Perdagangan Rabu (25/3), Ini Faktor Pendukungnya
Investor juga dianjurkan untuk memilih saham dengan rasio utang rendah, mengingat kenaikan harga minyak dunia sering dibarengi oleh kenaikan suku bunga acuan untuk meredam inflasi.
Sementara itu, Ekky merekomendasikan wait and see atau mengurangi eksposur terhadap sektor-sektor yang paling sensitif terhadap kenaikan harga energi, setidaknya dalam jangka pendek.
Investor bisa memilih emiten yang memiliki pricing power kuat sehingga mampu menjaga margin kendati biaya produksi dan operasional meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













