kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Lonjakan harga minyak cuma sementara, seiring tensi geopolitik


Jumat, 11 Oktober 2019 / 20:41 WIB

Lonjakan harga minyak cuma sementara, seiring tensi geopolitik
ILUSTRASI. Oil tanker is seen at sunset anchored off the Fos-Lavera oil hub near Marseille, France, October 5, 2017. REUTERS/Jean-Paul Pelissier TPX IMAGES OF THE DAY


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tensi di Timur Tengah kembali meningkat dengan adanya serangan pada tanker minyak Iran di Jumat (11/10). Harga minyak mentah pun menguat di akhir pekan. Penguatan tersebut dinilai hanya sementara seiring dengan tensi Timur Tengah yang cenderung temporer.

"Tapi isu ini masih akan menopang harga minyak global dan sewaktu waktu masih bisa muncul," kata Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf kepada Kontan.co.id, Jumat (11/10).

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Jumat (11/10) pukul 19.04 WIB, harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November di New York Mercantile Exchange (Nymex) tercatat menguat 1,48% di level US$ 54,34 per barel.

Baca Juga: Kapal tanker Iran diserang, harga minyak masih berpotensi naik pekan depan

Penguatan harga terjadi setelah dilaporkan telah terjadi ledakan pada tanker Iran di dekat Jeddah, Arab Saudi. "Ledakan ini memicu potensi risiko geopolitik dan sekali lagi mengejutkan pasar sehingga harga minyak menguat," kata Will Sungchil Yun, analis komoditas HI Investmen & Futures Corp kepada Bloomberg.

Selain itu, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo sempat mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa pihaknya bakal terus menjaga harga minyak dunia tetap stabil. Hal ini turut menjadi sentimen positif bagi harga minyak mentah untuk mengalami kenaikan. 

Di samping itu, Alwi juga menilai harga minyak mentah yang sudah mendekati level tripple bottom di kisaran US$ 50 per barel, sudah berada dititik equilibrium, sehingga wajar untuk mengalami teknikal rebound.

Baca Juga: IHSG menguat pekan ini, simak sejumlah sentimen untuk pekan depan

Meskipun begitu, Alwi menekankan bahwa sentimen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China masih menjadi fokus utama penggerak harga minyak global hingga akhir tahun. Pasar juga tengah menanti apakah pertemuan pekan ini bisa berbuah manis atau mengalami kebuntuan. 

Ditambah lagi, International Energy Agency (IEA) kembali memangkas target permintaan minyak di 2019 dan juga 2020. Dikutip dari Financial Times, IEA dilaporkan memangkas estimasi permintaan minyak 2019 sebanyak 65.000 barel per hari menjadi 1 juta barel per hari. Sedangkan untuk 2020 permintaan turun 105.000 barel per hari menjadi 1,2 juta barel per hari.

"Belum lagi cadangan minyak AS juga dilaporkan naik 2,9 juta barel per hari atau di atas prediksi pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa demand akan berkurang di tengah isu bengkaknya supply dari AS. Alhasil kekhawatiran supply di pasar meningkat," jelasnya.

Baca Juga: Tarif angkut minyak melonjak ke level tertinggi setelah adanya sanksi AS

Untuk jangka pendek, Alwi melihat kemungkinan teknikal rebound masih akan terjadi, asalkan harga bisa bertahan di level US$ 54,80 per barel. Sedangkan untuk akhir tahun, dia masih mempertahankan outlook support di level US$ 50,50 per barel dan resistance di level US$ 60,96 per barel. 

Untuk itu, kemungkinan di akhir tahun harga minyak akan berada di level tengah yakni US$ 58,79 per barel, dengan rekomendasi buy on weakness saat harga berada di area US$ 50 per barel hingga US$ 51 per barel. "Sentimen serangan tanker Iran kelihatannya cuman sementara, pekan depan juga sudah akan pudar," tandasnya.


Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan


Close [X]
×