kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,23   6,87   0.74%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Laba Japfa Comfeed (JPFA) Tergerus, Begini Prospeknya Hingga Akhir 2023


Selasa, 13 Juni 2023 / 04:55 WIB
Laba Japfa Comfeed (JPFA) Tergerus, Begini Prospeknya Hingga Akhir 2023


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mencetak kinerja kurang memuaskan pada kuartal I 2023 akibat tekanan biaya. Meski masih berat, kinerja emiten perunggasan ini diprediksi membaik hingga akhir 2023.

Kepala Riset Surya Fajar Sekuritas Raphon Prima mengatakan tekanan pada harga day old chicken (DOC) dan broiler membuat para konsumen JPFA yaitu para peternak mengurangi pembelian pakan ternak. Karena pada saat harga DOC dan broiler rendah ini artinya jumlah DOC dan broiler di pasaran melimpah.

Menurutnya, perlu waktu beberapa bulan hingga peternak mengurangi produksinya hingga tercapai keseimbangan jumlah DOC dan broiler dan membuat harga kembali normal. Setelah harga normal, peternak diperkirakan kembali memacu produksi dan meningkatkan pembelian pakan ternak dari JPFA.

Baca Juga: Laba Emiten Poultry Tergerus Daya Beli

"Kami perkirakan hal ini terjadi di kuartal IV 2023," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (12/6).

Pada kuartal I 2023, JPFA mencetak pendapatan sebesar Rp 11,76 triliun atau turun 3,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 12,15 triliun. Sementara bottom line mencetak rugi bersih sebesar Rp 249,92 miliar dari laba bersih Rp 603,73 miliar pada kuartal I 2022.

Equity Research Analyst Aldiracita Sekuritas Indonesia Timothy Gracianov memaparkan, capaian tersebut berada di bawah estimasinya. Penyebabnya antara lain, penurunan harga DOC dan biaya pemusnahan yang lebih tinggi.

 

Dijelaskan, segmen DOC mencatat kerugian operasional sebesar Rp 310 miliar, anjlok dari laba operasional kuartal sebelumnya sebesar Rp 139 miliar lantaran penurunan rata-rata harga jual (ASP) sekitar 24% secara kuartalan. Selain itu, terjadi peningkatan biaya produksi akibat pemusnahan yang lebih intensif sehingga mendorong harga ayam pedaging menjadi lebih tinggi.

Menurutnya, penurunan harga DOC di kuartal I 2023 mencerminkan ketidakmampuan peternak untuk mendapatkan keuntungan dari beternak ayam pedaging. Bahkan, mengalami kerugian bersih karena biaya yang lebih tinggi.

Baca Juga: Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Eksportir Saat Ekonomi AS Melambat

"Kami memperkirakan ASP DOC akan membaik di kuartal II 2023 seiring dengan pulihnya harga ayam pedaging," katanya.




TERBARU

[X]
×