kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Laba Gudang Garam (GGRM) Melonjak 2.440%, Target Harga Masih Belum Dikoreksi


Selasa, 04 Agustus 2026 / 16:10 WIB
Laba Gudang Garam (GGRM) Melonjak 2.440%, Target Harga Masih Belum Dikoreksi
ILUSTRASI. Rokok Gudang Garam (GGRM) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Gudang Garam Tbk (GGRM) pada semester I 2026 mencatat lonjakan laba yang signifikan. Meski begitu perusahaan ini dinilai masih menghadapi tekanan penjualan akibat pelemahan volume rokok.  

Laba bersih GGRM sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 3 triliun atau melonjak 2.440% secara tahunan 

Capaian tersebut berada di atas ekspektasi analis maupun konsensus pasar. Realisasi laba bersih GGRM telah mencapai 91% dari proyeksi Indo Premier dan 77% dari estimasi konsensus, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pencapaian lima tahun terakhir yang berada di level 48%.

Pada tahun 2026, Indo Premier Sekuritas memperkirakan pendapatan GGRM bisa mencapai Rp 91,94 triliun dengan laba bersih Rp 3,28 triliun. Sementara di 2027 pendapatan dan laba bersih GGRM akan mencapai Rp 99,34 triliun dan Rp 3,69 triliun. 

Kinerja laba yang kuat didorong oleh peningkatan profitabilitas. Margin laba kotor alias gross profit margin (GPM) GGRM meningkat menjadi 14,5% pada semester I-2026, naik 600 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, rasio biaya operasional terhadap penjualan membaik menjadi 5,5%, turun 221 basis poin yoy, sehingga mendorong marjin EBIT naik menjadi 9,1% atau meningkat 831 basis poin yoy.

Namun, dari sisi pendapatan, kinerja GGRM masih menghadapi tekanan. Pendapatan semester I 2026 tercatat Rp 41,2 triliun, turun 7,2% yoy. Angka tersebut masih sejalan dengan konsensus pasar, tetapi berada di bawah perkiraan Indo Premier. Penurunan ini terutama dipengaruhi pelemahan penjualan rokok sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT), yang masing-masing turun 8% dan 6% yoy.

Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra menyebutkan, pelemahan penjualan pada kuartal II 2026 terjadi karena penurunan volume meski perusahaan telah menaikkan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP).

Pada kuartal II tahun 2026, penjualan bersih GGRM turun tipis 1,1% yoy menjadi Rp 21,1 triliun. Segmen SKM menjadi pemberat utama dengan pertumbuhan penjualan minus 2% yoy, sementara segmen SKT masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,1% yoy.

Berdasarkan pengecekan kanal distribusi terbaru, Indo Premier memperkirakan GGRM menaikkan blended ASP SKM sebesar 6,8% yoy. Dengan kenaikan harga tersebut, penurunan penjualan SKM sebesar 2% menunjukkan adanya penurunan volume sekitar 8,2% yoy.

Penurunan volume tersebut berada di bawah pertumbuhan industri yang mencapai 3,5% yoy menurut data PMI. Kondisi ini menunjukkan tren perpindahan konsumen ke produk rokok dengan harga lebih rendah (downtrading) masih berlanjut di tengah lemahnya daya beli masyarakat.

Meski penjualan tertekan, kinerja laba GGRM pada kuartal II 2026 tetap mencatat pemulihan kuat. Margin laba kotor GGRM pada  kuartal II meningkat menjadi 13,5%, naik 514 basis poin yoy, didukung kenaikan ASP SKM sebesar 6,8% yoy serta tarif cukai yang relatif stabil.

Dari sisi biaya, rasio beban operasional terhadap penjualan membaik menjadi 5,2%, turun 241 basis poin yoy. Perbaikan tersebut didorong oleh penurunan rasio biaya iklan dan promosi (A&P) sebesar 93 basis poin menjadi 0,9%, serta penurunan rasio biaya gaji menjadi 1,7%.

Alhasil, marjin EBIT kuartal II 2026 meningkat menjadi 8,4%, naik 762 basis poin yoy. Laba bersih kuartal II tercatat Rp1,4 triliun atau melonjak 11.194% yoy, dengan margin laba bersih mencapai 6,9%, naik 683 basis poin yoy.

Dari hasil kinerja GGRM yang positif, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham GGRM dengan target harga tidak berubah di Rp 18.700 per saham. Target tersebut menggunakan asumsi valuasi 11 kali price to earnings ratio (PE) tahun buku 2026, atau sekitar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata PE tiga tahun terakhir.

Saham GGRM per Kamis (4/8/2026) jauh di atas target saham Indo Premier Sekuritas yakni di Rp 20.325 per saham, naik 4,23% dari hari sebelumnya. 

Andrianto menyatakan pihaknya masih melakukan peninjauan terhadap proyeksi kinerja GGRM sembari menunggu kejelasan lebih lanjut dari perusahaan.

Adapun risiko utama terhadap rekomendasi tersebut adalah pelemahan volume penjualan yang lebih besar dari perkiraan serta berlanjutnya tren downtrading konsumen menuju produk rokok ilegal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×