kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.966   53,00   0,30%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Kurs rupiah tergencet dari dua sisi


Senin, 06 November 2017 / 17:37 WIB


Reporter: Dimas Andi | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang rupiah loyo pada penutupan perdagangan Senin (6/11). Rupiah digempur dari dua sisi, baik faktor eksternal maupun makroekonomi domestik.

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot melemah 0,19% ke level Rp 13.524 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,21% ke posisi level Rp 13.529 per dollar AS.

Research & Analyst Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengatakan, pelemahan rupiah dipicu positifnya data tenaga kerja AS yang dirilis pada akhir pekan lalu. Data tersebut mencatat, tingkat pengangguran AS bulan Oktober turun ke level 4,1%. Ini yang terendah sejak tahun 2000. Efeknya, dollar AS menguat, sehingga melemahkan rupiah.

Imbas data tenaga kerja tersebut sudah dirasakan rupiah sejak pembukaan tadi pagi. Sentimen negatif rupiah diperparah ketika data pertumbuhan ekonomi kuartal III dirilis meleset dari ekspektasi. “Pertumbuhan ekonomi kita hanya 5,06% dari ekspektasi 5,1%,” kata Putu.

Prediksi Putu, rupiah masih berpotensi melemah terbatas pada perdagangan Selasa (7/11) di kisaran Rp 13.490-Rp 13.560 per dollar AS.

Ia menilai, sentimen eksternal cenderung minim, karena hanya berupa kelanjutan isu kenaikan tingkat suku bunga acuan AS dan reformasi perpajakan.

Sementara, dari dalam negeri, data cadangan devisa bulan Oktober yang akan dirilis BI pada pertengahan pekan ini diperkirakan akan menekan rupiah. Sebab, cadangan devisa diekspektasikan hanya US$ 123 miliar atau lebih rendah dari bulan September yang mencapai US$ 129,4 miliar. “Ada kemungkinan ini bentuk intervensi BI terhadap nilai tukar rupiah,” kata Putu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×