kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kurs lira merosot, krisis keuangan menghantui Turki

Selasa, 07 Agustus 2018 / 21:49 WIB

Kurs lira merosot, krisis keuangan menghantui Turki
ILUSTRASI. Uang lira Turki



KONTAN.CO.ID - ISTANBUL. Krisis keuangan menghantui Turki. Mata uang Turki, lira terus merosot ke level terendah. Begitu pula harga obligasi jatuh karena kekhawatiran yang meningkat atas perselisihan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS).

Merosotnya lira makin menyulitkan Bank Sentral Turki untuk kembali menstabilkan mata uang ini. Mengutip Bloomberg, Selasa (7/8), kurs lira melemah 0,5% ke level 5,35 per dollar AS.


Sehari sebelumnya, kurs lira sempat merosot hingga 6,7%. Sepanjang tahun ini, nilai tukar lira sudah amblas 29% terhadap dollar AS.

Sementara yield atau imbal hasil obligasi Turki tenor 10 tahun melambung di atas 20% ke level tertinggi sepanjang masa yakni sebesar 20,09%.

"Ini akan tetap seperti ini, sampai Bank Sentral Turki berkomitmen tanpa syarat untuk menaikkan suku bunga sampai inflasi berubah. Pasar membutuhkan komitmen keras semacam itu," tulis Henrik Gullberg, ahli strategi di Nomura International Plc melalui email seperti dilansir Bloomberg.

Sebetulnya  pembuat kebijakan Turki sudah mengubah aturan cadangan untuk meningkatkan likuiditas valuta asing bank. Namun tidak cukup untuk menopang lira.

Bank Sentral Turki menurunkan jumlah maksimum pemberian pinjaman dalam mata uang asing sehingga akan ada tambahan cadangan valas yangbparkir di bank sentral. Langkah ini akan memberi mereka tambahan cadangan valas hingga US$ 2,2 miliar.

"Ini adalah perubahan yang bodoh, sementara lira sudah jatuh bebas," kata Win Thin, ahli strategi Brown Brothers Harriman di New York.

Rontoknya mata uang lira telah kemampuan perusahaan untuk membayar kembali pinjaman mata uang asing mereka, memicu inflasi serta memberikan tekanan pada bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga. Bank Sentral Turki dijadwalkan melakukan pertemuan berikutnya untuk menentukan arah suku bunga pada 13 September mendatang.

Analis Commerzbank, Lutz Karpowitz mengatakan, perubahan mekanisme cadangan valas hanya akan melemahkan lira. "Keengganan untuk menaikkan suku adalah sinyal yang dovish  dan kemungkinan akan memicu lebih banyak kerugian bagi lira," katanya.

Shamaila Khan, Director of Emerging Market Debt AllianceBernstein’s di New York mengatakan, masalah sebenarnya tidak ada tanda-tanda independensi bank sentral atau kebijakan fiskal ketat yang diperlukan untuk menstabilkan lira. "Pihak berwenang tidak menunjukkan tanda-tanda untuk kembali ke kebijakan yang lebih ortodoks," ujarnya.

Menurut Khan, yang dibutuhan untuk menguatkan lira adalah independensi Bank Sentral Turki, kebijakan fiskal yang ketat, serta program Dana Moneter Internasional (IMF).

Reporter: Khomarul Hidayat
Editor: Komarul Hidayat

KRISIS TURKI

Tag
TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0655 || diagnostic_web = 0.3436

Close [X]
×