kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Koreksi harga bitcoin disebut sebagai tren yang wajar


Jumat, 15 Januari 2021 / 17:46 WIB
Koreksi harga bitcoin disebut sebagai tren yang wajar
ILUSTRASI. harga bitcoin yang turun. KONTAN/Muradi/2018/09/13


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Setelah berada dalam tren penguatan pada awal tahun, pergerakan Bitcoin mulai berbalik arah. Merujuk Coinmarketcap.com, harga bitcoin terpantau sempat menyentuh US$ 41.000 per BTC pada pekan lalu.

Namun selepas itu justru berada dalam tren koreksi dan sempat  terjun ke US$ 34.000 per BTC.

Kendati demikian, harga Bitcoin kini sudah mulai kembali naik. Teranyar, pada Jumat (15/1) pukul 17.20 WIB, harga Bitcoin sudah berada di level US$ 38.561 per BTC.

Co-founder dari Cryptowatch dan pengelola channel Duit Pintar Christopher Tahir menyatakan, pergerakan harga Bitcoin yang volatile tersebut masih dalam kondisi wajar. Ia menyebut kenaikan parabolik yang terjadi semenjak pertengahan tahun lalu ini justru akan lebih baik jika bisa dijaga risikonya.

Baca Juga: Harga Bitcoin dinilai terlalu mahal, Altcoin bisa jadi pilihan alternatif investasi

“Berkaca dari 2017 silam, ketika terjadi kenaikan parabolik lalu diiringi koreksi 20-30% sebenarnya cukup wajar. Di luar terjadi koreksi, adapun tren positif Bitcoin belakangan ini tidak terlepas dari likuiditas yang saat ini membanjiri pasar,” kata Christopher kepada Kontan.co.id, Jumat (15/1).

Penguatan  Bitcoin juga tidak terlepas dari pembelian masif yang dilakukan oleh investor institusi. Christopher menyebut, institusi seperti Microstrategy, Grayscale, Paypal, Square (milik Twitter). Di satu sisi, aksi JP Morgan yang meng-upgrade outlook bitcoin akan mendorong semakin banyak institusi yang masuk atau menjadikan bitcoin sebagai alat transaksinya.

Oleh karena itu, Christopher meyakini kedua sentimen tersebut masih akan jadi faktor yang mendorong kenaikan harga Bitcoin ke depan. Ia juga menggunakan analisis stock to flow atau persediaan dengan jumlah bitcoin yang dirilis, memperlihatkan trennya cenderung flat menurun. Dus, dengan persediaan yang semakin menipis akan berpotensi menciptakan kelangkaan.

Baca Juga: Altcoin bisa jadi pilihan alternatif investasi ketika harga Bitcoin terlalu mahal




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×