Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.
Namun, pergerakan logam mulia ini masih akan dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, arah dolar Amerika Serikat (AS), serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Mengutip Trading Economics pada Selasa (13/10/2026) pukul 19.51 WIB, harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.182 per ons troi, menguat 0,24% secara harian dan naik 0,48% dalam sepekan terakhir.
Baca Juga: Harga Bitcoin Terkoreksi Lagi, Investor Wajib Cermati Tiga Sentimen Ini
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, level support US$ 4.146 per ons troi menjadi area penting untuk mencermati arah pergerakan harga emas selanjutnya. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan masih terbuka.
Sebaliknya, jika harga menembus ke bawah support tersebut, skenario kenaikan berpotensi berubah. Dari sisi teknikal, area US$ 4.226–US$ 4.253 per ons troi menjadi resistance terdekat yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
“Meski demikian, pergerakan menuju resistance tidak berlangsung secara otomatis karena tetap bergantung pada kekuatan permintaan dan respons pasar terhadap perkembangan ekonomi global,” jelas Geraldo dalam risetnya, Selasa (13/10/2026).
Di luar faktor teknikal, ketidakpastian geopolitik berpotensi menopang harga emas melalui peningkatan permintaan terhadap aset safe haven.
Ketika risiko politik dan ekonomi global meningkat, investor cenderung mencari instrumen yang dinilai dapat membantu melindungi nilai aset, termasuk emas.
Baca Juga: Setelah Tumbang, IHSG Punya Peluang Rebound pada Rabu (14/10)?
Meski demikian, penguatan harga emas masih menghadapi sejumlah tantangan. Penguatan dolar AS dapat menekan permintaan karena membuat emas lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga berpotensi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil secara langsung.
Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed masih menjadi perhatian pasar.
Sikap hawkish bank sentral AS dan prospek suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi menopang dolar AS serta imbal hasil obligasi, sehingga membatasi ruang kenaikan harga emas.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi AS sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Asing Mulai Cicil Net Buy Saat IHSG Terus Tertekan, Cek Rekomendasi Analis
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan menekan harga emas.
Sebaliknya, perlambatan inflasi berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap suku bunga dan membuka peluang penguatan logam mulia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














