kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kinerja Unilever akan terimbas divestasi Blue Band


Senin, 18 Desember 2017 / 20:36 WIB
Kinerja Unilever akan terimbas divestasi Blue Band

Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) tahun depan sepertinya bakal lebih berfluktuasi. Hal ini menyusul dijualnya segmen olesan makanan (spread) oleh Unilever Global ke Kohlberg Kravis Roberts (KKR).

Direktur UNVR Sancoyo Antarikso tak menampik adanya potensi tersebut. Sebab, Blue Band merupakan salah satu merek yang dijual. Padahal, Blue Band salah satu merek kunci penjualan UNVR di Indonesia.


"Tentu akan menyebabkan koreksi pada penjualan," ujarnya kepada KONTAN, Senin (18/12).

Namun, dampaknya tidak terlalu signifikan. Blue Band memang menjadi market leader pasar margarin. Tapi, kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasi UNVR tidak signifikan, hanya sekitar 1,5%.

Otomatis, laba bersih perusahaan juga bakal terpengaruh. Disebut-sebut jika ada divestasi salah satu merek kunci seperti Blue Band, maka laba bersih perusahaan akan sedikit terkikis sekitar 3% secara tahunan.

Namun, Sancoyo belum bersedia memberikan konfirmasinya terkait potensi penurunan laba bersih ini.

Analis First Asia Capital David Sutyanto memastikan, penjualan merek Blue Band nantinya akan mempengaruhi kinerja UNVR. Bukan hanya dari sisi pendapatan, namun juga hingga ke laba bersih. "Tapi, setidaknya UNVR juga akan memperoleh cash dari divestasi induk usahanya itu," ujar David.

Sebagaimana diketahui, Unilever menjual segmen spread dengan nilai transaksi £ 6,83 miliar atau setara US$ 8,04 miliar. Penjualan bisnis itu dilakukan lantaran Unilever ingin lebih fokus dan tumbuh lebih cepat di lini bisnis yang lain.

Pada saat itu, Unilever menyebutkan ingin memangkas biaya. Tujuannya agar margin mencapai 20% di tahun 2020.

Bisnis margarin telah mengalami penurunan selama bertahun-tahun karena orang-orang mengurangi makan roti dan margarin. Namun, Unilever telah mengambil langkah untuk membendung penurunan tersebut dan unit ini menjadikan bisnis tersebut kembali menguntungkan.

Hal itulah yang menarik perusahaan private equity yang menjadi penawar utama dalam lelang bisnis margarin dan bisnis olesan makanan Unilever. "Dana dari induknya nanti itu bisa digunakan UNVR untuk modal ekspansi lainnya," imbuh David.

Dia masih merekomendasikan buy saham UNVR mengingat prospeknya yang masih cukup solid. Namun, target harganya kembali dalam perhitungan sembari memasukan faktor divestasi Blue Band.

Sementara, Mimi Halimin, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset 18 Desember2017 merekomendasikan hold saham UNVR dengan target harga Rp 53.300 per saham.

UNVR masih menjad salah satu saham defensif terfavorit. "Tapi, untuk jangka pendek UNVR terpapar sentimen ketatnya persaingan dan daya beli," tulisnya.




TERBARU

Close [X]
×