kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Kinerja & saham emiten Grup Rajawali masih jeblok


Rabu, 08 Juni 2016 / 08:22 WIB
Kinerja & saham emiten Grup Rajawali masih jeblok


Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Emiten-emiten grup Rajawali Corpora tahun ini diprediksi masih akan sulit untuk tumbuh. Sektor-sektor bisnis yang dilakoni grup ini tengah lesu. Selain itu, salah satu emiten Rajawali, PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT), tengah dalam proses akuisisi oleh Felda Global Ventures Holding Bhd (FGV).

Harga saham emiten milik Rajawali Corpora juga masih belum baik. Saham BWPT turun 40,92% dari Rp 413 per saham pada 5 Juni 2015 menjadi Rp 244, kemarin (7/6).

Harga saham emiten transportasi anggota grup Rajawali, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), turun lebih jauh. Tahun lalu, harga saham TAXI mencapai Rp 1.000 per saham. Sedangkan kemarin, harga saham TAXI hanya Rp 178 per saham, atau turun 82,2% dalam setahun.

PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) mencetak penurunan harga saham paling dalam dari anggota grup Rajawali yang tercatat di bursa. Harga saham emiten sektor energi ini merosot 88,5% dalam setahun dari Rp 1.895 jadi Rp 218.

Harga saham PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) melorot 13,33% dari Rp 680 ke Rp 600 dalam setahun.

David Nathanael Sutyanto, Analis First Asia Capital, mengatakan, rapor emiten milik Rajawali memang kurang baik. Keempat emiten grup ini merugi pada kuartal pertama. David mengatakan, lini bisnis Rajawali Corpora tidak sebatas pada perusahaan yang melantai di bursa.

Banyak perusahaan private yang mungkin kinerjanya lebih baik ketimbang emiten go public. Menurut David, praktis Rajawali masih mengandalkan TAXI dan BWPT. Namun kedua emiten ini masing-masing masih merugi Rp 9,84 miliar dan Rp 67,65 miliar pada kuartal pertama.

David menambahkan, Rajawali sebelumnya berniat menjual kedua emiten tersebut. Rajawali juga melakukan strategi yang sama pada Bentoel dan EXCL. "Selama ini mereka menjual pada waktu yang tepat dengan pembeli besar. Mereka membangun perusahaan dan menjualnya," kata David, Senin (6/6).

Dia memperkirakan, kinerja emiten Rajawali belum akan mengkilap tahun ini. "Kita hanya bisa lihat yang public company, situasinya memang tidak bagus. Tapi overall masih bagus atau tidak, dia punya banyak private company," cetus David.

Senada, Christian Saortua, analis Minna Padi Investama, mengatakan, saham-saham milik Rajawali Corpora masih belum menarik untuk diperhatikan. Apalagi kinerja emiten-emiten tersebut pada awal tahun ini masih jeblok.

Christian juga mengatakan Rajawali Corpora memiliki perusahaan private yang bisa saja performanya masih baik. Ia melihat, Rajawali masih bisa berharap hanya dari sektor perkebunan.

"Saya melihat sektor perkebunan memiliki peluang yang lebih besar untuk bertumbuh. Apalagi BWPT mampu memperbaiki struktur modal dengan mengurangi utang," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×