kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kinerja Reksadana Saham Diprediksi Bangkit di Akhir Tahun


Senin, 09 Oktober 2023 / 06:00 WIB
Kinerja Reksadana Saham Diprediksi Bangkit di Akhir Tahun


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja reksadana saham diprediksi kembali moncer di kuartal akhir 2023.

Sementara, reksadana berbasis obligasi terlihat menarik dengan valuasi yang rendah.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menilai, aset-aset berbasis saham menarik dicermati pada kuartal empat tahun ini, setelah mengalami tekanan pada kuartal tiga lalu. Secara historis, aset saham menawarkan imbal hasil yang cukup signifikan di akhir tahun dibandingkan aset lainnya.

“Investor bisa mencermati reksadana saham yang fokus pada saham-saham value dan komoditas. Biasanya harga komoditas terutama energi bisa melonjak mejelang akhir tahun,” jelas Fajar kepada Kontan.co.id, Jumat (6/10).

Reksadana pendapatan tetap juga masih layak dipegang, setelah tertekan dalam dua bulan terakhir. Investor bisa mulai akumulasi dikarenakan yield obligasi SBN tenor 10 tahun telah menyentuh level di atas 7% yang menunjukkan valuasi pasar obligasi sudah cukup murah.

“Sehingga momentum ini bisa menjadi entry point untuk membeli reksadana pendapatan tetap untuk setidaknya dipegang hingga setahun ke depan,” tambah Fajar.

Baca Juga: Unggul Sejak Awal Tahun, Reksadana Pendapatan Tetap Turun Sepanjang September 2023

Fajar turut melihat potensi kenaikan imbal hasil pada reksadana pasar uang. Kelas aset jangka pendek ini sebenarnya masih cukup menarik masuk portofolio hingga paruh pertama tahun depan karena Bank Indonesia (BI) kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga acuan guna meredam pelemahan rupiah.

Namun di sisi lain, kelas aset saham dan obligasi saat ini pun sedang menawarkan valuasi yang menarik. Oleh karena itu, Fajar menyarankan, bagi investor yang memiliki jangka waktu investasi jangka panjang bisa melakukan alokasi yang lebih besar ke saham, kemudian baru obligasi.

Dari dari periode Januari – September 2023, kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan reksadana kelas aset lainnya tercermin dari Infovesta 90 Fixed Income Index dengan return sebesar 3,33% ytd.

Kemudian disusul reksadana pasar uang dengan return indeks sebesar 2,87% ytd dan reksadana campuran dengan return sebesar 2,07%ytd. Sementara reksadana saham terkoreksi di sepanjang tahun ini dengan return -0,45%ytd.

CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan, tentunya reksadana pilihan akan sangat tergantung dari tujuan investasi, profil risiko, serta jangka waktu investasi masing-masing investor. Investor juga harus memperhatikan perkembangan pasar yang saat ini fluktuatif dan adanya potensi kenaikan suku bunga.

Reksadana pasar uang cocok untuk tipe investor yang cenderung menyukai tingkat risiko rendah. Jika fokus terhadap likuiditas dan menghindari risiko fluktuasi harga, maka reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan.

Reksadana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan untuk mencari pendapatan yang stabil. Perhatikan durasi portofolio karena ini akan memengaruhi risiko terkait suku bunga.

Guntur berujar, kondisi pasar terkini yang menyimpan potensi kenaikan suku bunga di akhir tahun dan pada saat bersamaan mengindikasikan suku  bunga sudah mencapai puncak maka cukup menarik untuk aset obligasi.

Sebab, sudah banyak obligasi yang terkoreksi, sehingga menjadi potensi bagi investor untuk masuk di level sekarang, mengingat potensi kenaikan reksadana pendapatan tetap lebih baik dibandingkan risikonya.

Sementara, bagi investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan percaya pada potensi pertumbuhan pasar saham, maka reksadana saham bisa menjadi pilihan.

Hanya saja, Guntur mengingatkan, perlu dipahami bahwa reksadana berbasis saham kinerjanya akan sangat terpengaruh pasar saham yang cukup fluktuatif. Berbagai faktor mempengaruhi terutama dari sisi makro dan geopolitik, serta fundamental domestik.

“Jika investor memiliki pandangan positif terhadap prospek pasar finansial di tahun depan dan siap menghadapi volatilitas jangka pendek, maka akhir tahun ini bisa menjadi momentum tepat untuk mengoleksi reksadana saham atau obligasi,” kata Guntur kepada Kontan.co.id, Sabtu (7/10).

Baca Juga: Dana Kelolaan Tumbuh, Pasar Reksadana Dinilai Masih Prospektif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×