kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Kinerja Pradiksi Gunatama (PGUN) Masih Prospektif, Simak Rekomendasinya


Selasa, 09 Juni 2026 / 19:24 WIB
Kinerja Pradiksi Gunatama (PGUN) Masih Prospektif, Simak Rekomendasinya
ILUSTRASI. Kebun sawit PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) - Jhonlin Group (Dok/PGUN)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dinilai masih prospektif didukung oleh harga crude palm oil (CPO) yang masih di level atas.

PGUN mengantongi produksi tandan buah segar (TBS) 73.090 ton hingga awal Juni 2026.

Finance and Accounting Manager Pradiksi Gunatama Donisius G mengatakan, hal ini setara dengan 26% dari target produksi TBS di tahun 2026 yang sebesar 281.000 ton.

Sedangkan, produksi minyak kelapa sawit alias CPO sebesar 15.930 ton per awal Juni 2026. Ini sekitar 27% dari target produksi CPO tahun ini yang sebesar 59.254 ton.

“Untuk palm kernel, produksinya tercatat 3.231 ton per awal Juni 2026. Ini sekitar 29% dari budget tahun 2026 sebesar 11.254 ton,” ujarnya dalam Pubex PGUN, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: Pradiksi Gunatama (PGUN) Kantongi Produksi TBS 73.090 Ton hingga Awal Juni 2026

Doni bilang, PGUN menargetkan omset sebesar Rp 973 miliar di tahun 2026 yang mayoritas berasal dari penjualan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Penjualan CPO ditargetkan sebesar Rp 859 miliar dengan volume penjualan CPO sekitar sebesar 59.000 ton dan harga rata-rata di Rp14.500 per kilogram. 

“Sedangkan untuk produk kernel, direncanakan sekitar Rp114 miliar dengan volume penjualan Rp11.000 kilogram dan harga rata-rata di Rp10.000 per kilogram,” ungkapnya.

PGUN juga menargetkan laba operasional sebesar Rp 199 miliar dan laba bersih Rp 299 miliar untuk tahun 2026. Masing-masing sekitar 1% dan 30% dari target omset di tahun 2026.

Sebagai gambaran, penjualan bersih PGUN sebesar Rp 166,54 miliar per kuartal I 2026. Laba bersih sebesar Rp 32,48 miliar di kuartal I 2026.

Dari sisi tata kelola perusahaan terbuka, PGUN bakal melepas 4,88% dari total saham tercatat untuk memenuhi batas free float. Direktur Keuangan PGUN, Tamlikho mengatakan, saat ini free float perseroan masih sekitar 7,62% per 31 Maret 2026.

Baca Juga: Pradiksi Gunatama (PGUN) Realisasi Belanja Modal Rp 26,6 Miliar per Mei 2026

Mayoritas saham PGUN dipegang PT Araya Agro Lestari dengan persentase 38,44%. Lalu, PT Citra Agro Raya menggenggam 38,25% dan PT Baramega Citra Mulia Persada 15,69%.

“Sebagai komitmen terhadap kebijakan Bursa, PGUN akan melepas sebagian saham pendiri (founding shareholders) kepada masyarakat,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

 

Strategi itu akan dilakukan secara bertahap dan terukur dengan tetap memerhatikan stabilitas harga saham, kondisi pasar modal, minat investor institusi maupun ritel, kepentingan seluruh pemegang saham, serta kepatuhan terhadap regulasi OJK dan BEI.

Target tahap awal PGUN mau memenuhi 12,5% saham free float pada maksimal 31 Maret 2027. Dengan demikian, perseroan perlu menambah free float sekitar 4,88% dari total saham tercatat.

“Ini direncanakan berasal dari divestasi sebagian saham pemegang saham pendiri dan/atau afiliasi kepada publik. Untuk pemenuhan free float sebesar 15%, perseroan berkomitmen akan dipenuhi sampai dengan tahun 2028,” tuturnya.

Baca Juga: Penuhi Free Float, Pradiksi Gunatama (PGUN) Bakal Lepas 4,88% Saham

Tamlikho bilang, PGUN saat ini tengah mengevaluasi beberapa alternatif pelaksanaan. Di antaranya, divestasi bertahap di pasar reguler, private placement kepada investor strategis non-afiliasi, secondary offering/accelerated bookbuilding, serta program peningkatan basis investor publik.

“Keputusan final terkait metode pelaksanaan akan mempertimbangkan kondisi pasar dan persetujuan reguler,” paparnya.

Peningkatan free float itu juga diyakini akan memberikan dampak positif terhadap likuiditas saham, akses pendanaan jangka panjang, kualitas investor base, serta valuasi jangka panjang.

Donisius G menambahkan, aksi korporasi itu tidak akan memengaruhi kinerja operasional dan saham PGUN. “Sebab, aksi tersebut tak termasuk transaksi material dan secara keseluruhan kepemilikan UBO juga masih dominan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, PGUN tidak berencana menambah penjualan ke pihak non-afiliasi. Sebagai gambaran, PGUN menjual hasil produksi kepada perusahaan induk, PT Jhonlin Agro Jaya Tbk (JARR).

JARR diakui masih mampu menampung produksi CPO dari PGUN. Kapasitasnya juga masih banyak dinaikkan untuk memenuhi program pemerintah B50. “Berapapun produk CPO yang dihasilkan oleh PGUN akan diserahkan kepada JARR,” tuturnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, penjualan PGUN di kuartal I 2026 masih menunjukkan pertumbuhan. Secara umum pun sektor CPO masih prospektif mengingat harga global yang masih tinggi.

“Yang penting, emiten yang berbasis CPU itu memiliki efisiensi operational yang tinggi, sehingga tetap mampu mencatatkan performa yang solid,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, kinerja PGUN masih positif.

“Selain didukung oleh pertumbuhan produksi yang stabil, ASP CPO pada kuartal I 2026 yang masih terjaga di level tinggi menjadi salah satu faktor utama yang menopang pendapatan dan profitabilitas,” katanya kepada Kontan, Selasa.

Nafan melihat, prospek PGUN di tahun 2026 utamanya didorong dari divestasi saham oleh Ultimate Beneficial Owner (UBO) sebagai upaya memenuhi batas free float minimum.

Namun, masih lamanya target free float itu terpenuhi membuat saham PGUN masih kurang likuid dalam waktu dekat.

“Yang penting, divestasi ini tujuannya untuk restrukturisasi saham di pasar modal, bukan pengurangan aset produktif atau kapasitas pabrik. Jadi operational kebun milik PGUN masih bekerja secara normal,” paparnya.

Azis menilai,prospek PGUN juga cukup baik hingga akhir 2026, meskipun sentimen divestasi saham oleh pendiri atau UBO berpotensi menimbulkan volatilitas harga dalam jangka pendek.

”Secara fundamental, divestasi tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap operasional selama tidak terjadi perubahan strategi maupun pengendalian perusahaan,” ungkapnya.

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk PGUN dengan target harga Rp 7.700 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×