kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kinerja mentereng obligasi Indonesia di 2017


Sabtu, 30 Desember 2017 / 15:35 WIB
Kinerja mentereng obligasi Indonesia di 2017

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar obligasi dalam negeri selama 2017 benar-benar mantap. Ini tercermin dalam Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang melesat 16,37% secara year to date (ytd) ke level 242,31. Indeks obligasi pemerintah tumbuh 16,5% sedangkan indeks obligasi korporasi melaju 14,24% hingga Jumat (29/12).

I Made Adi Saputra, Analis Fixed Income MNC Sekuritas, menyebutkan, pencapaian kinerja tersebut lebih tinggi dari performa obligasi pemerintah dan korporasi di 2016, yang masing-masing 13,93% dan 12,62%. Menurut Made, menjelaskan, kenaikan peringkat utang Indonesia dari S&P pada 19 Mei lalu jadi angin segar bagi surat utang kita.

Terbaru, Fitch Ratings juga mengerek rating utang, dari BBB- dengan outlook positif menjadi BBB dengan outlook stabil. "Kenaikan rating implikasinya lansung positif ke pasar surat utang negara," kata dia.

Sebenarnya, di akhir 2017 sempat ada kekhawatiran laju obligasi terhambat tren pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS) dan pelemahan rupiah. Tapi, ini bisa diredam pasca Fitch menaikkan rating utang kita.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail menambahkan, tren yield pemerintah seri acuan atau benchmark tenor 10 tahun juga turun. "Tren 2017, yield obligasi terjun bebas, setelah di Januari sekitar 7,7% dan sekarang di level 6,3%," ujar dia, Jumat (29/12).

Mulai terbatas

Selain kenaikan peringkat utang Indonesia, tingkat inflasi yang stabil dan penurunan suku bunga ke level rendah turut mendukung rapor hijau obligasi. Alhasil, investor asing percaya diri masuk ke obligasi Indonesia.

Mikail mencatat, dana asing yang masuk dalam seminggu terakhir mencapai US$ 60,5 juta. Jumlah ini melonjak tiga kali lipat dibandingkan dengan rata-rata pembelian obligasi oleh asing pada satu bulan belakangan.

Dana asing yang masuk deras ke pasar obligasi dalam negeri, Mikail mensinyalir, lantaran ada potensi lembaga pemeringkat utang internasional lainnya juga mengerek rating Indonesia. "Moody's Investors Service kemungkinan menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi Baa2, sementara S&P berpotensi mengerek outlook dari stabil jadi positif," ucap Mikail.

Untuk tahun depan, Made memperkirakan, dana asing yang masuk ke Surat Utang Negara (SUN) terjaga di kisaran Rp 80 triliun hingga Rp 90 triliun. "Sempat ada wacana, obligasi Indonesia masuk ke indeks obligasi global. Tentu, itu bakal membuat peluang investor asing masuk dengan dana yang lebih besar," imbuh Made.

Di tengah kondisi pasar yang oke menjelang akhir tahun, Made memproyeksikan, potensi total return dari obligasi akan terbatas di tahun depan. "Pertumbuhan total return yang diterima hanya berada di kisaran 7%8%. Ini terbilang rendah karena capital gain yang membatasi," kata Made.

Melihat potensi return yang terbatas Made menyarankan, baiknya investor cukup aktif untuk melakukan trading, dengan memanfaatkan momentum yang terjadi di sepanjang 2018. Sementara Mikail memproyeksikan, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di kisaran 5,7%5,9% hingga Juni 2018 mendatang.

Sementara setelah bulan tersebut, yield akan kembali naik ke kisaran 5,9% sampai 6%. Made menambahkan, kinerja obligasi Indonesia di 2018 akan didukung katalis positif dari APBN dan target ekonomi serta inflasi. "Pemerintah ingin menunjukkan, tren pertumbuhan ekonomi terus meningkat, walaupun pencapaiannya masih dibawah target tapi ada perbaikan," tegasnya.

Namun, Made tetap mewaspadai tekanan inflasi yang tinggi seiring kenaikan harga komoditas. Selain itu, tahun politik yang dimulai dari 2018 ke 2019 menjadi ajang bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan belanja negara.

"Seringkali, jelang pemilu pemerintah pusat ingin gencar membelanjakan anggaran. Tetapi, pemerintah daerah kadang malah menahan belanja," ujarnya.

Bukan cuma itu, sentimen eksternal yang berpotensi menahan kinerja obligasi di 2018 adalah berlanjutnya tren pengetatan moneter di berbagai negara, seperti AS, Eropa, dan Inggris. Masalah geopolitik di Timur Tengah dengan Yerusalem dan Korea Utara juga bisa memengaruhi pasar keuangan. Sehingga, investor cenderung memilih memarkirkan dana investasinya pada aset-aset yang lebih aman.

Kekhawatiran senada juga diungkapkan Mikail. Hal tersebut bakal membuat penurunan yield obligasi di awal tahun depan tak sesignifikan tahun ini. Mikail memproyeksikan, return obligasi korporasi di 2018 untuk rating AAA dengan tenor satu tahun berada di kisaran 7,5%, atau turun dari posisi saat ini 7,8%. Sementara imbal hasil obligasi korporasi rating AAA tenor lima tahun ada di 5,7%5,8%.

Sedang penerbitan obligasi korporasi di 2018, Mikail memprediksikan, total hanya mencapai Rp 158 triliun. Alasannya, menjelang pemilu, perusahan pelat merah tidak terlalu agresif dalam menerbitkan surat utang. Padahal, BUMN terutama di sektor infrastruktur selama ini menjadi yang paling rajin menjual surat utang.

Sektor keuangan seperti perbankan pun bakal tak terlalu agresif menerbitkan obligasi seperti di 2017. Sebab, dana pihak ketiga masih banyak sedang kredit tidak tumbuh tinggi. 




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×