Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling menonjol. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tekanan di pasar saham domestik, logam mulia dinilai masih berpotensi melanjutkan penguatan.
Melansir data Bloomberg, harga emas global pada hari pertama pemerintahan Presiden Prabowo, 21 Oktober 2024, berada di level US$ 2.961 per ons troi. Hingga 22 Oktober 2026, harganya telah meningkat 41,83% menjadi US$ 4.177 per ons troi.
Kenaikan tersebut turut tercermin pada harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Pada 21 Oktober 2024, harga emas Antam tercatat Rp 1.514.000 per gram. Sementara itu, pada 22 Oktober 2026, harganya mencapai Rp 2.550.000 per gram, atau naik lebih dari 70%.
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp 18.042 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (22/10), Asia Mixed
Perencana keuangan Andy Nugroho mengatakan, emas mampu mempertahankan daya tariknya sebagai aset safe haven ketika investor menghadapi ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut turut menopang permintaan emas, baik sebagai instrumen investasi maupun sebagai pelindung nilai kekayaan.
Menurut Andy, kinerja emas sepanjang 2025 menjadi salah satu gambaran kuatnya daya tarik instrumen tersebut. Berdasarkan catatan Andy, harga emas mencatatkan kenaikan hingga 54,72% secara year to date pada 2025.
Ada sejumlah faktor yang mendorong penguatan emas. Pertama, gejolak pasar obligasi global meningkatkan kekhawatiran investor sehingga mendorong peralihan dana ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk emas fisik.
Kedua, pelemahan rupiah turut mendongkrak harga emas dalam denominasi rupiah. Ketiga, ketidakpastian makroekonomi meningkatkan kebutuhan investor untuk melindungi nilai kekayaan.
"Maka potensinya untuk terus naik harganya semakin cerah, apalagi pemerintah juga meluncurkan exchange-traded fund (ETF) emas fisik pertama di Indonesia," jelas Andy kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga: IHSG Balik Menguat ke 5.418,9 di Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: MAPI, BUMI, MBMA
Di luar emas, Andy melihat setiap instrumen investasi memiliki prospek dan risiko yang berbeda dalam kondisi pasar saat ini. Pada instrumen obligasi pemerintah berdenominasi rupiah, misalnya, kenaikan yield berpotensi menekan harga obligasi, terutama untuk surat utang bertenor panjang, dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan yield juga membuka peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil yang lebih menarik. Surat Berharga Negara (SBN) memiliki karakteristik risiko kredit yang relatif rendah karena pembayaran pokok dan kuponnya dijamin oleh pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku. Tercatat, Indeks IBPA Government Total Return yang mencerminkan kinerja total obligasi pemerintah naik 10,11%, dari 386,0753 pada 21 Oktober 2024 menjadi 425,1024 pada 16 Oktober 2026.
Sementara itu, pasar saham domestik masih menghadapi tekanan sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Andy menilai, selama proses konsultasi dengan MSCI berlangsung, pergerakan saham berpotensi tetap volatil dan tertekan. Dus, sejak Prabowo menjabat pada 21 Oktober 2024 hingga 19 Oktober 2026, IHSG malah tercatat terkoreksi 35,6%.
Di satu sisi, kondisi tersebut meningkatkan risiko investasi saham. Di sisi lain, koreksi harga dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham-saham unggulan pada valuasi yang lebih menarik, dengan tetap mempertimbangkan fundamental emiten.
Adapun pasar kripto dinilai memiliki faktor penggerak yang berbeda dari saham domestik. Sebagai pasar global, pergerakan aset kripto lebih dipengaruhi kondisi likuiditas global, data ekonomi AS, serta arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Hingga Pekan Depan, Analis Sarankan Selektif Pilih Saham
Andy menilai, peluang keuntungan dari aset kripto masih terbuka apabila kondisi makroekonomi mendukung. Namun, volatilitas yang tinggi membuat investor perlu memahami risiko dan mencermati pergerakan pasar sebelum mengambil keputusan.
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pasar saham mencatatkan pertumbuhan signifikan. Andy menyebut, IHSG tumbuh 584,6% selama periode tersebut, didukung oleh booming komoditas global, pesatnya pertumbuhan ekonomi China, peningkatan daya beli masyarakat, serta derasnya aliran modal asing ke pasar negara berkembang.
Sementara itu, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Andy menilai SBN dan reksadana pendapatan tetap menjadi instrumen yang memberikan kinerja menarik. Sejumlah faktor yang mempengaruhi pasar saat itu antara lain perang dagang Amerika Serikat-China, pandemi Covid-19, serta pergeseran belanja pemerintah ke pembangunan infrastruktur.
Adapun pada dua tahun pertama pemerintahan Prabowo, emas menjadi instrumen yang paling menonjol menurut Andy. Kondisi ini terjadi ketika pasar saham domestik menghadapi tekanan dan ketidakpastian yang mempengaruhi kepercayaan investor.
"Instrumen investasi logam mulia yang meniadi juara dalam masa 2 tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo, masih berpotensi untuk dapat menguat mengingat kondisi makroekonomi global dan nasional yang belum menentu," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














