kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Kinerja Avirst Ada Obligasi Berlian tersokong penurunan suku bunga acuan BI


Rabu, 26 Februari 2020 / 21:54 WIB
Kinerja Avirst Ada Obligasi Berlian tersokong penurunan suku bunga acuan BI
ILUSTRASI. ilustrasi reksadana. KONTAN/Muradi/2019/09/17


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) 7 days reverse repo rate (BI7DRRR) membawa sentimen positif pada kinerja reksadana pendapatan tetap yang memiliki aset dasar Surat Utang Negara (SUN). 

Kinerja reksadana pendapatan tetap milik Avrist Asset Management, yaitu Avrist Ada Obligasi Berlian juga turut diuntungkan dari turunnya tingkat suku bunga acuan.   

Baca Juga: Suku Bunga Acuan BI Turun, Simak Prospek Reksadana Pasar Uang

Berdasarkan data Infovesta Utama, per Selasa (25/2), kinerja reksadana yang terbit Desember tahun lalu ini tumbuh 0,94% dalam sebulan terakhir. Kinerja tersebut lebih tinggi dari kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap yang naik 0,74% di periode yang sama.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan, strategi pengelolaan reksadana Avrist Ada Obligasi Berlian adalah fokus berinvestasi di SUN terutama pada seri acuan 10 tahun. Alasan Farish memilih aset tersebut karena mempertimbangkan likuiditas. 

"Keunggulan SUN seri benchmark 10 tahun itu paling likuid dan menjadi tujuan utama oleh investor asing dan domestik," kata Farash kepada KONTAN. Dengan aset yang likuid maka, Farash bisa memanfaatkan capital gain secara optimal. 

Baca Juga: Reksadana pasar uang berpotensi tertekan, ETF bisa jadi pilihan

Ke depan Farash memproyeksikan kinerja reksadana pendapatan tetap akan positif di tahun ini. Hal ini didukung sentimen penurunan suku bunga baik secara lokal maupun global. 

"Inflasi stabil, harga minyak rendah serta capital inflow kuat mendukung kestabilan rupiah dan pasar obligasi," kata Farash. Apalagi, investor asing juga percaya pada pasar obligasi dalam negeri karena rating surat utang Indonesia stabil. 

Dengan dukungan makorekonomi yang stabil, Farash berharap return reksadana ini tumbuh berkisar 8%-9% di tahun ini. Strategi yang akan Farash gunakan untuk mencapai kinerja tersebut adalah dengan mengandalkan kupon dan capital gain. 

Senada, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana memproyeksikan kinerja reksadana pendapatan tetap masih bisa tumbuh tersokong penurunan suku bunga. Wawan memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun ini berkisar 6%-6,5%. 

Baca Juga: Suku bunga turun, manajer investasi siapkan strategi mendongkrak reksadana pasar uang

"Jika suku bunga turun sekali lagi maka yield bisa sentuh 6% dan harga obligasi bisa naik lagi," kata Wawan, Rabu (26/2). 

Namun, secara rata-rata, Wawan memproyeksikan kinerja reksadana pendapatan tetap di tahun ini bisa tumbuh 7%-8% dengan asumsi suku bunga turun sekali lagi ke 4,5%. 

Sementara, di tahun ini, Avrist berencana menambah produk reksadana baru berjenis exchange traded fund (ETF) pendapatan tetap. Oktober tahun lalu, Avrist AM meluncurkan ETF berbasis obligasi pertama, bertajuk Reksa Dana Avrist ETF Fixed Rate Bond I dengan ticker XAFA. 

"ETF obligasi tahun ini melanjutkan ETF obligasi sebelumnya dengan menggunakan underlying yang berbeda," kata Farash. 

Baca Juga: Kinerja Reksadana Campuran Tertekan, MI Tetap Pertahankan Kebijakan Alokasi Aset

Selain itu, Avrist AM juga akan melengkapo produk reksadana pasar uang dan terproteksi baru di tahun ini. Hingga Januari 2020, Farash mengatakan dana kelolaan Avrist Asset Manegement berkisar Rp 5,5 triliun.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×