Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih divisi ini turun 24% menjadi Rp 9,1 triliun. Penurunan kinerja jasa penambangan dan pertambangan batu bara hanya sebagian diimbangi oleh kinerja yang lebih baik dari bisnis emas.
Tercatat, penjualan alat berat Komatsu naik 2% menjadi 4.500 unit, terutama didorong sektor kehutanan dan perkebunan.
Penyedia jasa penambangan, PT Pamapersada Nusantara mencatat volume pengupasan lapisan tanah turun 10% menjadi 1,1 miliar bank cubic metres akibat curah hujan lebih tinggi serta penurunan stripping ratio pada sebagian kontrak.
Anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) di bisnis batubara membukukan penjualan 11,6 juta ton (termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi), naik dari 10,2 juta ton pada 2024. Namun, pendapatan tetap tertekan akibat harga batu bara yang lebih rendah.
Baca Juga: Diversifikasi Astra International (ASII) ke Sektor Kesehatan Dinilai Menjanjikan
Bisnis emas diuntungkan oleh kenaikan harga jual rata-rata emas 40%, meski volume penjualan turun 2% menjadi 227.000 oz.
Bisnis nikel mencakup PT Stargate Pasific Resources dan Nickel Industries Limited (NIC), di mana Astra membukukan bagian laba ekuitas NIC berdasarkan periode laporan yang berbeda.
Agribisnis
Laba bersih divisi Agribisnis naik 28% menjadi Rp 1,2 triliun. Harga CPO meningkat 11% menjadi Rp 14.316/kg, sementara volume penjualan CPO dan turunannya naik 13% menjadi 1,8 juta ton.
Infrastruktur
Divisi Infrastruktur mencatat kenaikan laba bersih 24% menjadi Rp 1,3 triliun, ditopang tarif tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Pendapatan harian konsesi jalan tol meningkat 8%.
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra International (ASII) Turun 24,59% Hingga Oktober 2025
Teknologi Informasi
Laba bersih divisi Teknologi Informasi naik 33% menjadi Rp 208 miliar, didorong pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi TI dan peningkatan margin usaha.
Properti
Divisi Properti membukukan lonjakan laba bersih 224% menjadi Rp 719 miliar, terutama berasal dari tambahan aset gudang industri yang baru diakuisisi serta pengakuan goodwill negatif dari akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













