kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kembali Cetak Rekor Terlemah di Rp 17.424, Ini Sudah Melampaui Fundamental Ekonomi


Selasa, 05 Mei 2026 / 16:56 WIB
Kembali Cetak Rekor Terlemah di Rp 17.424, Ini Sudah Melampaui Fundamental Ekonomi
ILUSTRASI. Rupiah ditutup menguat 0,50 persen (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah berlanjut hingga menembus level terlemah sepanjang sejarah. Bahkan, dinilai telah melampaui nilai fundamentalnya di tengah meningkatnya premi risiko di pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026), melemah 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.394 per dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman, mengatakan nilai tukar rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik.

Baca Juga: Rupiah Kian Loyo, Pemerintah Sebut Pemicunya Musim Haji dan Pembayaran Dividen

"Dengan inflasi yang masih relatif terjaga, neraca dagang yang masih surplus, dan cadangan devisa yang cukup kuat, kisaran fundamental rupiah lebih rasional di sekitar Rp16.500–Rp16.900 per dolar AS," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, pelemahan rupiah hingga sempat menyentuh Rp17.424 per dolar AS mencerminkan adanya peningkatan risk premium dari pasar, bukan semata faktor fundamental.

Ia menjelaskan, penilaian nilai wajar rupiah umumnya ditopang oleh sejumlah indikator utama, seperti inflasi, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, yield surat berharga negara (SBN), arus modal asing, serta persepsi terhadap kredibilitas fiskal.

Rizal menambahkan, tekanan terhadap rupiah saat ini bersifat kombinatif, baik dari faktor eksternal maupun domestik.

Dari sisi global, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, serta lonjakan harga energi mendorong terjadinya capital outflow.

Sementara itu, dari dalam negeri, pasar merespons meningkatnya risiko fiskal, mulai dari potensi pelebaran defisit anggaran, kenaikan subsidi energi hingga meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah yang menekan pasar obligasi.

"Kondisi ini membuat ruang kebijakan moneter menjadi lebih terbatas dan memperkuat tekanan terhadap nilai tukar," kata Rizal.

Baca Juga: Pasar Obligasi Fluktuatif, OJK Sebut Yield SBN Turun dan Asing Mulai Masuk

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×