Reporter: Vatrischa Putri Nur, Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah mencetak rekor pelemahan terdalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/1/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 16.855 per dolar AS, melemah 0,21% dibandingkan penutupan Jumat (9/1/2026).
Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren penurunan rupiah menjadi delapan hari perdagangan berturut-turut.
Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat rekor terlemah. Rupiah JISDOR ditutup di level Rp 16.853 per dolar AS, melemah 0,11% dari sesi sebelumnya.
Baca Juga: Prospek Kinerja Hermina (HEAL) Dinilai Cerah Tahun 2026, Ini Rekomendasi Analis
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari menilai, tekanan terhadap rupiah ke depan lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya arus masuk modal dibandingkan faktor perdagangan.
Pranjul menjelaskan, ketahanan eksternal suatu negara umumnya ditopang oleh dua komponen utama, yakni sektor perdagangan dan arus keuangan. Dari sisi perdagangan, kondisi Indonesia dinilai relatif masih solid.
“Surplus perdagangan Indonesia tercatat cukup kuat sepanjang 2025, dan neraca transaksi berjalan juga berada di posisi positif,” ujar Pranjul dalam agenda HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026.
Namun demikian, tantangan utama Indonesia justru berasal dari sisi arus modal. Menurutnya, arus masuk modal portofolio ke pasar saham dan obligasi, serta investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) jangka panjang, masih belum menunjukkan penguatan yang berarti.
Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru, Saham Emiten Emas Kompak Menghijau
Dengan kondisi tersebut, Pranjul memperkirakan tekanan depresiasi terhadap rupiah masih akan berlanjut seiring dinamika neraca pembayaran.
Lemahnya arus modal dinilai berpotensi menahan penguatan rupiah, meskipun kinerja ekspor tetap solid.
“Kami memperkirakan hingga akhir 2026, nilai tukar rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS,” kata Pranjul.
Melansir Reuters, mata uang di kawasan Asia emerging bergerak bervariasi meski dolar AS melemah. Saat rupiah ditutup loyo, ringgit Malaysia menguat tipis 0,2%.
Di Korea Selatan, won melemah hingga 0,7% ke level terendah sejak 24 Desember 2025, sekaligus memperpanjang tren pelemahan menjadi sembilan sesi berturut-turut.
Otoritas Korea Selatan memanggil tujuh bank domestik untuk menelaah lonjakan simpanan dalam dolar AS di tengah pelemahan won, menurut pejabat dan sumber perbankan.
Ke depan, Korea Selatan dijadwalkan membuka pasar valuta asingnya untuk perdagangan 24 jam mulai Juli, sebagai bagian dari upaya meningkatkan likuiditas dan daya tarik pasar keuangan.
Selanjutnya: Insentif Tax Holiday untuk Industri Pionir Diproyeksi Sentuh 7,33 Triliun pada 2026
Menarik Dibaca: Promo Alfamart Kebutuhan Dapur sampai 15 Januari 2026, Aneka Sarden Mulai Rp 8.900
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













