kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45952,80   9,76   1.04%
  • EMAS1.014.000 -1,46%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Katalis Positif Mewarnai Saham Poultry 2023, Ini Rekomendasi JPFA, CPIN, WMPP, MAIN


Senin, 05 Desember 2022 / 07:29 WIB
Katalis Positif Mewarnai Saham Poultry 2023, Ini Rekomendasi JPFA, CPIN, WMPP, MAIN
ILUSTRASI. Sejumlah katalis positif bakal mewarnai sektor perunggasan alias poultry pada tahun 2023.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah katalis positif bakal mewarnai sektor perunggasan alias poultry pada tahun 2023. Meskipun begitu, sejumlah analis masih menetapkan rekomendasi netral untuk sektor ini.

Analis Sinarmas Sekuritas Michael Filbery memprediksi, konsumsi ayam akan tumbuh moderat pada tahun depan. Hal ini didukung oleh kebijakan kenaikan upah minimum yang setinggi-tingginya 10% year on year (YoY).

Dari segi pasokan, Michael memperkirakan, kegiatan pemangkasan Day Old Chicken Final Stock (DOC FS) untuk mengontrol suplai juga akan berlanjut. Alhasil, harga ayam berpotensi menjadi lebih stabil.

Michael mengestimasikan tiga perusahaan utama di sektor ini dapat membukukan rata-rata pendapatan sebesar 9% pada tahun depan. Tiga perusahaan tersebut adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).

Laba bersih perusahaan poultry juga berpotensi tumbuh moderat pada 2023. Hal ini didukung oleh harga bahan baku yang diperkirakan mulai dapat ternormalisasi.

Baca Juga: Digentayangi Sentimen Negatif, Simak Rekomendasi Saham Properti Berikut Ini

Per November 2022, Departemen Pertanian Amerika Serikat memprediksi, produksi kedelai (soybean) terutama di Brasil dapat naik 20% YoY pada 2022-2023 ke level 152 juta metrik ton. Alhasil, produksi soybean global dapat tumbuh 9,8% di periode yang sama.

Potensi kenaikan produksi ini akan berdampak positif pada kenaikan suplai soybean meal (SBM) global. Konsensus pasar memperkirakan, harga SBM akan turun sekitar 6% yoy di 2023.

Selain itu, harga jagung impor yang sudah di atas Rp 5.000/kg telah memacu tingkat penanaman jagung lokal tahun ini. Alhasil, panen jagung lokal tahun 2023 diperkirakan akan meningkat dibandingkan panen 2022.

Terlebih lagi, efek dari fenomena La Nina sudah mulai menurun sehingga mendukung tingkat panen lokal. Michael mencatat, harga jagung sejak awal semester 2 sudah di bawah Rp 5.000/kg.

"Dengan harga bahan baku yang lebih favorable, saya perkirakan ada kenaikan margin secara moderat," kata Michael saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (4/12).

Baca Juga: Rekomendasi Saham APLN, EXCL, INDF, LPPF dari Kiwoom Sekuritas, Senin (5/12)

Prediksi ini dibuat dengan mempertimbangkan bahwa perusahaan bisa lebih leluasa menyesuaikan rata-rata harga jual untuk mengimbangi efek kenaikan beban upah dan harga bahan bakar minyak.

Dalam riset tanggal 25 November 2022, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A. Fauni melihat permintaan ayam akan tetap solid pada 2023. Sejalan dengan itu, penjualan emiten poultry diprediksi akan tumbuh moderat di tahun depan.

Hal ini sejalan dengan pembukaan kembali ekonomi yang cukup solid dalam beberapa kuartal terakhir. Gejala infeksi Covid-19 terhadap masyarakat juga semakin melemah sehingga efeknya terhadap kegiatan perekonomian diperkirakan tidak akan parah apabila ada peningkatan kasus lagi.

Pada tahun 2023, Indonesia juga memasuki tahun politik sebagai persiapan pemilihan umum pada 2024. "Saya yakin hal itu akan berefek positif terhadap permintaan ayam. Saya memperkirakan pertumbuhan yang lebih tinggi di semester 2 2023," ucap Emma.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada Hari Ini (5/12), Berikut Rekomendasi Saham dari Analis

Emma juga melihat, normalisasi harga SBM akan berlanjut sehingga bakal mengurangi tekanan pada margin segmen pakan ternak di 2023. Sejak pertengahan kuartal ketiga 2022, harga SBM secara bertahap berkurang 20% sejak menyentuh puncaknya di kuartal ketiga 2022.

Meskipun segmen pakan ternak masih tertekan, laba bersih dua emiten poultry terbesar sebenarnya hampir kembali ke level sebelum pandemi. Akan tetapi, harga saham emiten tetap berada di bawah tekanan.

Emma menilai, harga saham emiten poultry akan meningkat ke depannya seiring dengan harga SBM yang berlanjut turun. Kondisi ini akan mendorong peningkatan laba bersih emiten pada 2023.

Emma mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor poultry karena katalis positif yang kuat masih harus dilihat, yakni penurunan harga komoditas yang signifikan dan permintaan ayam yang lebih kuat di semester kedua 2023.

Baca Juga: Begini Prospek IHSG Akhir Tahun di Tengah Tekanan Saham GOTO

Dalam riset tanggal 2 November 2022, Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan juga menetapkan rekomendasi netral untuk sektor poultry. Pada tahun ini, lonjakan harga bahan baku, termasuk SBM gandum, dan lain-lain berpotensi menekan margin perusahaan.

Namun, ada secercah harapan bahwa harga jagung bakal lanjut turun seiring dengan berakhirnya La Nina yang akan membantu meningkatkan produksi jagung. Produksi jagung Indonesia diproyeksikan mencapai 12,7 juta pada tahun 2022.

 

Baca Juga: Bersiap Menadah Cuan dari Santa Claus Rally

REKOMENDASI

1. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)

JPFA menawarkan potensi laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan peers-nya. JPFA diprediksi dapat mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 15% pada 2023.

Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 2.000 per saham
Analis Sinarmas Sekuritas Michael Filbery

2. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)

CPIN disukai karena mempunyai margin operasional yang lebih tinggi dibanding peers-nya. Margin operasional tahun 2023 diperkirakan sebesar 11%, didukung kontribusi segmen pakan ternak yang dominan terhadap keuntungan operasional secara keseluruhan.

Rekomendasi: Netral
Target harga: Rp 6.200 per saham
Analis Sinarmas Sekuritas Michael Filbery

Baca Juga: Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin (5/12)

3. PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP)

Samuel Sekuritas melihat potensi alpha pick di WMPP dengan bisnisnya yang terintegrasi penuh. Mulai dari peternakan unggas, peternakan sapi, sampai dengan pengolahan daging.

Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 190 per saham
Analis Samuel Sekuritas Sekuritas Muhammad Farras Farhan

4. PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN)

Dibandingkan dengan dua kompetitor terbesarnya, skala bisnis MAIN lebih kecil secara signifikan. Pendapatan utama MAIN berasal dari segmen pakan ternak yang mencapai lebih dari 60% sehingga tingginya harga bahan baku paling berdampak negatif terhadap kinerja laba bersih MAIN di tahun ini. Berkaca pada proyeksi laba bersih 2022-2023, harga MAIN saat ini juga tergolong premium.

Rekomendasi: Sell
Target harga: Rp 480 per saham
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A. Fauni

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×