kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.025,63   -7,01   -0.68%
  • EMAS932.000 -0,96%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Jurus Danareksa Investment Dongkrak Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap


Kamis, 15 September 2022 / 13:39 WIB
Jurus Danareksa Investment Dongkrak Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap
ILUSTRASI. Kinerja reksadana pendapatan tetap kurang mantap di tahun ini.


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pendapatan tetap kurang mantap di tahun ini. Berdasarkan data dari Infovesta Utama per 1 September 2022, kinerja reksadana pendapatan tetap yang tercermin dari Infovesta 90 Fixed Income Fund Index hanya naik 0,50% secara year to date (ytd) atau dari awal tahun. Sementara secara bulanan naik 0,57%.

Herman Tjahjadi, Chief Investment Officer (CIO) Danareksa Investment Management mengatakan untuk mendapatkan kinerja yang lebih bagus pada reksadana pendapatan tetap, pihaknya memperhatikan kondisi makro ekonomi.

Sebagai contoh, jika terdapat indikasi adanya penurunan tingkat suku bunga maka pemilihan obligasi dengan tenor lebih panjang akan menjadi pilihan yang dapat memberikan kontribusi kinerja positif lebih besar dalam portfolio.

Untuk mencapai kinerja yang tinggi pada reksadana pendapatan tetap, kata Herman, DIM akan fokus menempatkan dana pada obligasi pemerintah, obligasi korporasi, deposito bank.

Baca Juga: IHSG Menguat, Prospek Reksadana Indeks Makin Menarik

Selain itu, untuk investasi obligasi korporasi, DIM mengacu pada obligasi dengan peringkat investment grade. "Appetite investasi kami saat ini untuk obligasi korporasi harus memiliki peringkat investasi dari lembaga pemeringkat dengan peringkat minimal A-," ujar Herman kepada Kontan.co.id, Kamis (15/9).

Untuk saat ini, Herman mengatakan, DIMĀ  masih memilih obligasi pada tenor pendek atau durasi pendek.

"Ke depannya, tergantung dari kondisi makro ekonomi. Kami akan mulai melakukan perubahan alokasi ke obligasi dengan tenor lebih panjang apabila imbal hasil obligasi tenor 10 tahun berada di 7,7%," ucapnya.

Ia bilang, prospek reksadana pendapatan tetap ke depannya akan baik terutama untuk jangka panjang. Namun, ini juga akan tergantung dengan pergerakan tingkat suku bunga acuan.

Menurut Herman, apabila ke depannya inflasi dan suku bunga di Indonesia turun maka prospek reksadana pendapatan tetap akan lebih baik dibandingkan reksadana saham.

Sentimen yang bisa menopang prospek reksadana pendapatan tetap antara lain tingkat inflasi yang rendah dan juga kalau suku bunga acuan turun.

Sebaliknya, sentimen yang menghambat prospek reksadana pendapatan tetap antara lain tingkat inflasi yang tinggi dan tren kenaikan suku bunga acuan.

Baca Juga: Dana Kelolaan Industri Reksadana Naik Rp 1,35 Triliun Sepanjang Agustus 2022

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×