kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   4.000   0,14%
  • USD/IDR 16.918   17,00   0,10%
  • IDX 8.274   -36,15   -0,43%
  • KOMPAS100 1.163   -5,91   -0,51%
  • LQ45 834   -4,25   -0,51%
  • ISSI 296   -0,45   -0,15%
  • IDX30 437   -1,48   -0,34%
  • IDXHIDIV20 520   -5,14   -0,98%
  • IDX80 130   -0,58   -0,44%
  • IDXV30 144   0,34   0,24%
  • IDXQ30 140   -1,50   -1,06%

Jejak Smart Money (19 Feb 2026): Saham dengan Ticket Size Besar di Lapis Kedua


Jumat, 20 Februari 2026 / 05:05 WIB
Jejak Smart Money (19 Feb 2026): Saham dengan Ticket Size Besar di Lapis Kedua
ILUSTRASI. Investor ritel mengamati IHSG lewat gawainya yang Ditutup Melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Hasbi Maulana | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - Pasar modal Indonesia pada perdagangan Kamis (19/02/2026) menunjukkan dinamika yang kontras antara tekanan jual pada instrumen penggerak indeks dan agresivitas aliran dana pada sektor energi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36,14 poin atau 0,43% ke level 8.274,08.

Meskipun indeks memerah, likuiditas perdagangan tergolong masif dengan total nilai transaksi menembus Rp 26,12 triliun.

Psikologi pasar terlihat terbelah; di pasar reguler terjadi aksi lepas portofolio pada saham-saham perbankan, sementara saham sektor energi menjadi primadona.

Rentang pergerakan indeks yang cukup lebar (8.251,81 - 8.376,19) mengindikasikan volatilitas tinggi dengan dominasi tekanan jual di akhir sesi.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Turun Kamis (19/2), Nvidia dan Saham Private Equity Tertekan

Sumber: Bursa Efek Indonesia 

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound ke 8.500? Cermati Saham Pilihan Analis Berikut

Big Caps: Perang Urat Saraf di Benteng Perbankan

Di kelas Big Caps (saham dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp 100 triliun), terjadi perlawanan sengit antara foreign flow dengan kekuatan domestik.

Dua raksasa perbankan, Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), menjadi sasaran utama aksi jual asing.

BBCA mencatat foreign net flow negatif sebesar 54,2 juta saham dengan closing strength index (CSI) di angka 0. Angka CSI nol ini menunjukkan tekanan jual yang tak terbendung hingga detik terakhir penutupan, di mana harga parkir di level terendahnya hari ini (Rp 7.175 per saham).

Nasib serupa dialami BMRI yang terkoreksi Rp 200 ke level 5.075 dengan CSI rendah 0,10.

Sebaliknya, Bumi Resources Tbk. (BUMI) tampil sebagai monster likuiditas dengan volume transaksi raksasa. BUMI berhasil menutup hari dengan kenaikan 16 poin ke harga Rp 300 per saham, didukung akumulasi asing bersih sebanyak 314,5 juta saham dan CSI 0,7, menandakan dominasi pembeli di akhir perdagangan.

Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga menunjukkan ototnya dengan kenaikan CSI ke 0,72, mengindikasikan adanya dorongan smart money yang menjaga harga tetap tinggi di zona hijau.

Baca Juga: Harga Emas Antam Diproyeksi Menguat pada Momen Ramadan, Cermati Sentimen Penggeraknya

Hidden Gems: Jejak Kaki Smart Money di Lapis Kedua

Bergeser ke segmen Mid-Small Cap, terdeteksi pergerakan senyap namun bertenaga. Beberapa saham dengan nilai transaksi Rp 1 miliar hingga Rp 50 miliar menunjukkan ticket size (rata-rata nilai per transaksi) yang jauh melampaui median pasar (Rp 1,7 juta per transaksi).

Singaraja Putra Tbk. (SINI) mencatatkan ticket size fantastis sebesar Rp 31,3 juta per transaksi. Dengan CSI sempurna di angka 1.00, SINI menunjukkan akumulasi bersih di mana harga penutupan sama dengan harga tertinggi harian.

Jejak serupa terlihat pada Panca Anugrah Wisesa Tbk. (MGLV) dan Arkora Hydro Tbk. (ARKO) yang juga mencetak CSI 1 dengan ticket size di atas Rp 12 juta.

Pola ini seringkali menjadi indikasi kuat adanya pemodal yang sedang memborong saham tanpa ingin merusak harga pasar secara agresif di awal sesi.

Baca Juga: Ekspansi Masif Dinilai Jadi Katalis Mayapada (SRAJ), Ini Rekomendasi Analis

Falling Accumulation: Strategi Serok Bawah

Fenomena menarik terjadi pada strategi serok bawah. Beberapa emiten mengalami koreksi harga, namun justru mencatatkan arus masuk modal asing yang signifikan.

Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) terkoreksi 25 poin, tetapi asing justru melakukan net buy sebanyak 17,09 juta saham.

Hal serupa terjadi pada Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang melemah 10 poin namun diakumulasi asing 12,8 juta saham.

Meski demikian, investor dan trader perlu waspada karena CSI saham-saham ini masih berada di bawah 0,5 yang berarti kekuatan penjual domestik masih mendominasi penutupan sesi.

Baca Juga: Ekspansi Masif Dinilai Jadi Katalis Mayapada (SRAJ), Ini Rekomendasi Analis

Penjelasan Istilah

Ticket size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?

  • ticket size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
  • Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
  • ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
  • ticket size Besar: Menandakan adanya "Smart Money" atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1 juta - Rp 2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan "tiket" bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.

CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?

CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.

  • Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0 sampai 1.
  • CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
  • CSI 0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
  • CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
  • Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk "menginapkan" saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.

Disclaimer:

Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (19 Februari 2026) yang diunduh langsung dari laman resmi BEI dan diolah. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.

Selanjutnya: Trump Padukan Diplomasi dan Pujian Personal dalam Pertemuan Board of Peace

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Karanganyar 2026: Panduan Lengkap Ibadah, Catat yuk

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×