kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Jegal baht Thailand, rupiah bisa menjadi mata uang terkuat Asia di 2020


Senin, 20 Januari 2020 / 08:09 WIB
Jegal baht Thailand, rupiah bisa menjadi mata uang terkuat Asia di 2020
ILUSTRASI. Seorang teller PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menghitung uang pecahan Rp100 ribu di Kantor Pusat BNI, Jakarta, Kamis (19/12/2019). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.

Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Bloomberg menunjukkan, baht Thailand merupakan mata uang berkinerja terbaik di Asia pada tahun lalu. Pemenang tahun ini tampaknya telah diputuskan: rupiah Indonesia.

Mata uang negara terpadat di Asia Tenggara itu telah mencatatkan reli selama tujuh minggu berturut-turut karena imbal hasil yang ditawarkan oleh surat utang pemerintah negara itu memikat trader. Bank sentral Indonesia mengatakan, pihaknya akan memungkinkan penguatan lebih lanjut untuk rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, surat utang dalam mata uang lokal menawarkan imbal hasil antara 5% hingga 8%, prospek yang memikat bagi investor yang ingin melakukan carry trade yang berupaya memanfaatkan dari perbedaan suku bunga antara kedua negara. Jika mereka merasa cukup berani untuk mengeksekusinya tanpa lindung nilai mata uang, investor akan mendapat imbalan lebih besar jika rupiah terus menguat.

Baca Juga: Menanti Keputusan BI Menetapkan Bunga, Ini yang Sebaiknya Dilakukan Investor

Sama pentingnya dengan daya tarik surat utang ini adalah sikap toleran bank sentral atas penguatan mata uang Garuda. Di saat para pembuat kebijakan umumnya berusaha membatasi kenaikan mata uang untuk mendukung ekspor, Bank Indonesia mengatakan pada 10 Januari akan menahan diri dari membatasi kekuatan rupiah selama itu mencerminkan peningkatan ekonomi dan volatilitas dapat dikelola dengan baik. Rupiah langsung menguat 0,8% pada hari itu.

Mata uang rupiah terus melanjutkan penguatan pada sesi perdagangan berikutnya setelah Uni Emirat Arab mengatakan telah setuju untuk menyisihkan dana US$ 22,8 miliar untuk berinvestasi di Indonesia, bergabung dengan SoftBank Group Corp Jepang dan US International Development Finance Corp.

Baca Juga: Prediksi Kurs Rupiah: Rawan Aksi Ambil Untung

Itu tidak berarti bahwa rupiah adalah taruhan satu arah. Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan pada pekan lalu, penguatan mata uang yang cepat dapat merusak ekspor dan melemahkan upaya untuk mengendalikan defisit neraca berjalan. "Jika rupiah terapresiasi terlalu cepat, kita harus berhati-hati," katanya.





Close [X]
×