kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Isu pajak picu Wall Street tumbang


Selasa, 31 Oktober 2017 / 06:20 WIB


Reporter: Dupla Kartini | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat ditutup di zona merah pada Senin (30/10) malam. Ketiga indeks di Wall Street melorot setelah dewan perwakilan rakyat (DPR) AS berencana menerapkan pemotongan pajak perusahaan secara bertahap.

Mengutip CNBC, Selasa pagi, indeks Dow Jones berakhir turun 85,45 poin atau 0,36% ke level 23.348,74.

Lalu, indeks S&P 500 ditutup melemah 8,24 poin atau 0,32% menjadi 2.572,83. Nasdaq juga tergerus 2,30 poin atau 0,03% di posisi 6.698,96, setelah sempat mencapai rekor intraday di awal sesi.

Menurut laporan Bloomberg, DPR tengah mempertimbangkan realisasi penurunan tarif pajak korporasi secara bertahap. Sehingga pemangkasan pajak menjadi 20% baru akan terjadi pada 2022 mendatang. Seperti diketahui, sebelumnya Presiden Donald Trump mengusulkan proposal pengurangan pajak perusahaan menjadi 20% dari maksimum 35%.

Harapan terhadap realisasi pemotongan pajak meningkat belakangan ini setelah DPR mengeluarkan rencana anggaran yang didukung oleh Senat. Persetujuan anggaran di DPR memungkinkan Senat mengeluarkan undang-undang hanya dengan suara mayoritas sederhana.

"Laporan itu benar-benar memukul pasar. Investor mulai berbalik arah segera setelah kabar itu muncul," kata Dave Lutz, Kepala perdagangan ETF di JonesTrading seperti dilansir CNBC, Selasa.

Meski demikian masih ada harapan sentimen positif bagi pasar saham dari laporan kinerja emiten. Pekan ini, Wall Street akan menantikan rilis kinerja Apple, Starbucks, Qualcomm dan Tesla.

Sejauh ini, 55% dari perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangannya. Menurut Thomson Reuters I/B/E/S, kinerja 74% diantaranya berhasil melampaui ekspektasi, dan 66% mencapai ekspektasi. "Musim pendapatan ini sangat spesifik. Perusahaan yang melaporkan kinerja baik telah mencatatkan kenaikan harga saham, sedangkan yang kinerjanya belum bagus, sahamnya turun," kata  Mark Spellman, manajer portofolio di Alpine Funds.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×