Reporter: Dina Farisah | Editor: Wahyu T.Rahmawati
JAKARTA. Memulai investasi tidak perlu menunggu banyak uang. Begitulah pemikiran Sherman Rana Krishna, Presiden Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta.
Sherman memulai investasi dengan mencicil rumah tinggal.Kala itu tahun 1987. Sherman baru bekerja dan memutuskan untuk membeli rumah di kawasan Jakarta Barat. Karena keterbatasan dana, ia pun mencicil rumah tersebut selama 10 tahun. "Kalau tidak berani mencicil, sulit untuk membeli rumah. Beli rumah tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan bulanan," kata dia.
Pria kelahiran Cirebon, 56 tahun yang lalu ini kemudian menjual aset propertinya itu setelah dihuni selama 12 tahun. Rumah dengan ukuran 160 meter persegi itu dijual dengan harga enam kali lipat dari harga beli.
Sherman mendulang untung pada pengalaman investasi pertamanya. Selanjutnya, ia merambah pengalaman berinvestasi di pasar modal. Keputusan tersebut diambil lantaran ia memang berkecimpung di perusahaan sekuritas.
Berbekal pemahaman yang luas, Sherman mantap mendiversifikasikan portofolio. Pilihan instrumen investasi Sherman berupa surat utang dan saham.
Saat ini, Sherman mengelola sendiri investasinya. Bapak satu anak ini tergolong investor moderat. Ia mengaku, memilih investasi saham untuk tujuan jangka panjang. Meski demikian, terkadang dia melakukan trading saham begitu melihat peluang.
Menurut Sherman, investasi jangka panjang dapat mengurangi stres. Sebab, ia tidak harus setiap saat memantau pergerakan saham. Dirinya cukup percaya dengan pemilihan saham-saham unggulan alias bluechips.
Seiring berjalannya waktu, Sherman menambah aset properti berupa lahan. Dia masih memilih lokasi di kawasan Jakarta Barat. Ia juga mulai mengoleksi valuta asing dalam bentuk dollar Amerika Serikat.
Baginya, berinvestasi di valuta asing semata-mata untuk tujuan lindung nilai alias hedging. Melihat pengalaman krisis yang melanda Indonesia pada tahun 1998 dan 2008, ia memutuskan mengalokasikan sebagian investasinya pada valuta asing. "Apapun yang kita investasikan, yang terpenting adalah mengetahui tingkat risikonya. Pertimbangkan apakah kita bisa menerima risiko tersebut," pesannya.
Selama berinvestasi, Sherman menganggap pengalaman untung dan rugi merupakan hal yang biasa. Menurut dia, calon investor harus mengenal betul produk investasinya. Selanjutnya, ia mengingatkan agar calon investor tidak berinvestasi secara berlebihan dan terlalu berspekulasi.
Sherman tidak menyarankan calon investor berinvestasi di luar batas kemampuan, apalagi sampai berutang dalam jumlah besar. Hal tersebut sangat berisiko. Jika untung tentu akan sangat fantastis. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, selain rugi berlipat ganda, calon investor bisa berurusan dengan pihak berwajib lantaran terbelit utang.
Penikmat olahraga golf ini juga menekankan pentingnya disiplin dalam berinvestasi, terutama di saham. Ia merekomendasikan para investor pemula agar konsisten pada tujuan investasi semula. Jika target keuntungan 20% telah tercapai, maka investor harus melepaskan saham tersebut. Sebab, dalam dunia saham tidak ada yang pasti. Besok, bisa saja saham itu justru anjlok.
Pria berkacamata ini mengaku belum mengajarkan pengalaman berinvestasinya pada istri dan anaknya. Istrinya yang berprofesi sebagai ibu rumahtangga tidak banyak terlibat dalam investasi yang dijalankan Sherman.
Sedangkan putrinya yang kini berusia 21 tahun masih fokus pada pendidikan. Sejauh ini, Sherman hanya mengajarkan anaknya untuk menghargai uang. Meski uang dipandang penting, uang bukan segalanya. Bagi dia, investasi terpenting adalah keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













