kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Intip Rekomendasi Saham Emiten Media yang Diprediksi Masih Berat di Tahun 2024


Minggu, 28 Januari 2024 / 16:36 WIB
Intip Rekomendasi Saham Emiten Media yang Diprediksi Masih Berat di Tahun 2024
ILUSTRASI. rekomendasi saham emiten media


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten media di tahun 2024 diperkirakan masih berat, meskipun ada banyak peluang untuk mengerek pendapatan.

Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan, kinerja para emiten media hingga saat ini masih variatif.

Sejumlah emiten media ada yang mencatatkan kinerja baik, seperti BMTR, MNCN, TMPO, SCMA, dan MSIN. Namun, ada yang kinerjanya memerah, seperti MSKY, VIVA, MDIA, NETV, ABBA, dan MARI.

Reza melihat, salah satu pemberat kinerja mereka adalah sudah banyaknya pilihan bentuk dan cara untuk pasang iklan.

“Iklan sekarang tidak hanya lewat televisi, tetapi juga bisa via videotron, media sosial, dan layanan streaming,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (25/1).

Baca Juga: SCMA Kejar Kenaikan Pendapatan dari Rangkaian Pemilu & Bisnis OTT Tahun Ini

Berada di tahun politik, kata Reza, kinerja emiten media bisa saja terkena sentimen positif dari iklan pemilu. Namun, tak semua partai politik atau calon legislatif (caleg) ingin memasang iklan di media televisi atau radio.

“Bisa jadi para caleg ingin pasang iklan berdurasi panjang di platform yang lebih murah. Jadi, pendapatan emiten media dari iklan pemilu ini tak akan terlalu berdampak signifikan,” tuturnya.

Reza mengatakan, ada sejumlah media yang terlihat memihak ke salah satu maupun dua pasangan calon (paslon) presiden, karena memiliki afiliasi bisnis atau politik.

Hal ini juga tidak akan menjadi jaminan bahwa pendapatan iklan media yang terafiliasi ke salah satu pasangan calon presiden itu akan melonjak dengan adanya pemilu.

“Belum tentu paslon membayar full ke media untuk iklan yang dipasang. Kalau terafiliasi, kemungkinannya mungkin ada diskon. Apalagi, periode tanya iklannya hanya beberapa saat,” katanya.

Menurut Reza, diversifikasi dari free to air (FTA) ke televisi kabel dapat memberikan layanan yang lebih luas dan premium untuk pada pelanggan. Langkah ini tentu memberikan tambahan pendapatan ke para emiten.

Namun, persaingan layanan televisi kabel ini sangat sengit, apalagi ditambah juga dengan hadirnya layanan OTT.

 

“Jadi, belum tentu juga jika ada media yang masuk ke bisnis TV kabel atau OTT, lalu kinerjanya meningkat signifikan,” paparnya.

Reza pun merekomendasikan beli untuk SCMA, MNCN, dan RAAM dengan target harga masing-masing Rp 200 per saham, Rp 427 per saham, dan Rp 675 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×