kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.989   76,00   0,42%
  • IDX 5.616   -27,42   -0,49%
  • KOMPAS100 723   -4,54   -0,62%
  • LQ45 551   -1,81   -0,33%
  • ISSI 195   -1,61   -0,82%
  • IDX30 313   -1,36   -0,43%
  • IDXHIDIV20 387   -2,33   -0,60%
  • IDX80 82   -0,51   -0,62%
  • IDXV30 106   -1,06   -1,00%
  • IDXQ30 101   -0,39   -0,38%

Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Hartadinata (HRTA) hingga Akhir 2026


Rabu, 01 Juli 2026 / 07:42 WIB
Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Hartadinata (HRTA) hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Permintaan emas sebagai safe haven menopang kinerja Hartadinata (HRTA).


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) masih menjanjikan hingga sisa tahun 2026. Tingginya permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global diperkirakan masih menjadi penopang kinerja emiten pengolahan dan ritel emas tersebut.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, fungsi emas sebagai aset safe haven diproyeksikan tetap kuat seiring masih tingginya ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini dinilai menjadi angin segar bagi HRTA yang memiliki bisnis terintegrasi dari pengolahan hingga ritel.

"Dengan kapasitas produksi yang terintegrasi dan penetrasi ritel yang kuat, HRTA berada di posisi strategis untuk mengonversi tingginya harga emas domestik menjadi margin keuntungan yang optimal," ujar Nafan kepada Kontan, Senin (29/6/2026).

Menurut Nafan, ekspansi jaringan ritel juga akan semakin memperkuat prospek perseroan. HRTA menargetkan penambahan 15 gerai baru pada tahun ini sehingga total gerai yang dioperasikan mencapai 100 unit, meningkat dari 85 gerai pada akhir kuartal I-2026. Saat melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2017, HRTA baru memiliki 12 gerai.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham untuk Hari Ini (1/7), IHSG Berpotensi Melemah Lagi

Ia menilai penambahan gerai akan memperluas pangsa pasar domestik sekaligus meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap produk emas dan perhiasan. Dengan karakteristik bisnis yang sangat bergantung pada jaringan distribusi, ekspansi tersebut diyakini mampu mengoptimalkan volume penjualan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Selain didukung ekspansi gerai, Nafan mengingatkan bahwa kinerja HRTA pada kuartal I-2026 juga masih mencerminkan fundamental yang solid, sehingga menjadi modal positif untuk menopang pertumbuhan hingga akhir tahun.

HRTA membukukan pendapatan sebesar Rp 20,16 triliun atau melonjak 196,96% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih mencapai Rp 433,49 miliar atau tumbuh 189,48% YoY. 

Dari sisi katalis, Nafan menjelaskan, konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika di jalur pelayaran Selat Hormuz dan tensi antara Amerika Serikat dengan Iran, masih menjaga harga emas dunia bertahan di atas level US$ 4.000 per ons troi.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) produk HRTA.

Selain itu, pembentukan ekosistem Bullion Bank nasional juga menjadi peluang baru bagi perseroan. Sebagai salah satu pemain emas terintegrasi terbesar di Indonesia, HRTA dinilai berpeluang menjadi mitra strategis dalam pengembangan ekosistem bank emas nasional.

Nafan bilang, kerja sama strategis HRTA dengan perusahaan tambang besar, seperti Danusa Tambang dan Agincourt Resources, dapat membantu menjaga stabilitas pasokan bahan baku sekaligus memitigasi risiko kelangkaan emas untuk kebutuhan produksi.

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku karena transaksi emas global menggunakan mata uang dolar AS. 

Selain itu, apabila inflasi global kembali meningkat dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) berpotensi mengalami koreksi jangka pendek.

 

Risiko lain datang dari harga emas yang terus meningkat. Menurut Nafan, harga emas domestik yang telah berada di kisaran Rp 2,6 juta per gram berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya pada segmen perhiasan. Kondisi tersebut dapat mendorong konsumen menunda pembelian atau beralih ke produk berkadar emas lebih rendah.

Di sisi internal, ekspansi gerai yang agresif juga harus diimbangi dengan pengelolaan struktur keuangan yang sehat. Nafan menyoroti posisi liabilitas HRTA yang mencapai sekitar Rp 10,1 triliun pada kuartal I-2026. 

Dengan demikian, Nafan saat ini masih memberikan rekomendasi wait and see terhadap saham HRTA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×