kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Intip Prospek Saham Lapis Dua di Tengah Volatilitas Pasar, Mana yang Layak Dicermati?


Jumat, 30 Januari 2026 / 19:51 WIB
Intip Prospek Saham Lapis Dua di Tengah Volatilitas Pasar, Mana yang Layak Dicermati?
ILUSTRASI. Penghentian sementara perdagangan saham trading halt (KONTAN/Cheppy A. Muchlis) Kinerja indeks IDX SMC Composite yang berisi kumpulan saham-saham lapis kedua masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan IHSG.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja indeks IDX SMC Composite yang berisi kumpulan saham-saham lapis kedua masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga perdagangan Jumat (30/1/2026), IDX SMC Composite mencatat koreksi 3,44% secara year to date (ytd), relatif lebih rendah dibandingkan pelemahan IHSG yang mencapai 3,67% ytd.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai prospek saham lapis dua yang tergabung dalam IDX SMC Composite masih bersifat mixed, namun relatif lebih defensif dibandingkan saham berkapitalisasi besar untuk jangka pendek hingga menengah. 

Menurutnya, sentimen MSCI belakangan ini cenderung memberikan tekanan langsung pada saham-saham yang masuk dalam indeks MSCI atau yang kerap diburu investor karena potensi masuk indeks tersebut. Sementara itu, saham lapis dua umumnya lebih terdampak efek ikut-ikutan aksi panic selling. 

Baca Juga: Bitcoin vs Emas: Analis Ragukan Rotasi Dana ke Kripto dalam Waktu Dekat

"Jadi kalau sentimen negatif mulai mereda, saham lapis dua yang memiliki story kuat biasanya lebih cepat pulih, bahkan bisa bergerak sendiri," kata Ekky kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan di tengah tekanan IHSG, saham lapis dua justru menunjukkan daya tahan relatif lebih baik karena eksposur asing lebih kecil dan valuasinya belum semahal big caps. 

"Secara historis, segmen ini juga cenderung lebih cepat pulih saat sentimen pasar membaik karena basis kapitalisasi yang lebih kecil membuat pergerakan harga lebih responsif terhadap katalis fundamental dan aksi korporasi," ucap Abida kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Saham yang Layak Dicermati

Abida menambahkan saham seperti BULL, AMRT, HRTA, dan PNLF dinilai menarik karena memiliki fundamental operasional yang solid, neraca relatif sehat, serta katalis pertumbuhan spesifik seperti ekspansi bisnis, pemulihan volume perdagangan, atau peningkatan margin.

"Emiten-emiten ini juga relatif belum sepenuhnya terefleksi dalam valuasi pasar dibanding saham lapis satu," terang Abida.

Sementara itu, Ekky berpandangan saham lapis dua yang layak dicermati investor adalah emiten dengan katalis yang jelas serta didukung likuiditas memadai. 

Salah satunya BULL, yang belakangan menjadi sorotan pasar dan sempat masuk radar Unusual Market Activity (UMA). Ini menunjukkan pergerakan saham tersebut banyak dipengaruhi oleh sentimen dan arus transaksi (flow), sehingga cenderung bersifat trader-driven.

Selain faktor sentimen, terdapat pula narasi fundamental dan operasional, seperti penambahan armada kapal LNG serta rencana ekspansi bisnis yang dapat menjadi penopang story hingga 2026, meski realisasinya tetap perlu dicermati.

Sementara itu, KIJA kerap dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas kawasan industri dan harapan perbaikan kinerja. Namun, saham ini juga sempat masuk UMA, yang menandakan volatilitas pergerakan cukup tinggi dan dipengaruhi faktor teknikal serta flow. Selain itu, terdapat faktor korporasi berupa rencana pelepasan saham treasuri hingga pertengahan 2026 yang berpotensi memengaruhi pasokan saham di pasar.

Dari sisi strategi, Ekky menekankan bahwa saham lapis dua sebaiknya tidak diperlakukan layaknya saham blue chip. 

"Instrumen ini lebih cocok bagi investor atau trader yang aktif," jelas Ekky. 

Strategi utama yang perlu diterapkan meliputi pengaturan porsi investasi yang konservatif, disiplin menerapkan cut loss, serta selektif memilih saham dengan likuiditas baik dan katalis yang jelas, bukan yang hanya mengandalkan kenaikan beruntun tanpa dasar fundamental. 

Pendekatan buy on weakness dan mengambil keuntungan secara bertahap di area resistance dinilai lebih aman, mengingat kondisi IHSG yang masih rapuh membuat aksi profit taking berpotensi terjadi lebih cepat. 

Untuk profil yang lebih konservatif, fokus dapat diarahkan pada saham lapis dua dengan katalis operasional atau korporasi yang konkret serta didukung aktivitas transaksi yang sehat, bukan sekadar euforia pasar.

Adapun Abida menyarankan investor fokus pada saham lapis dua yang memiliki arus kas stabil, pertumbuhan laba yang konsisten, serta likuiditas perdagangan yang memadai. Menurutnya, pendekatan bertahap melalui akumulasi saat koreksi dan disiplin manajemen risiko menjadi penting karena volatilitas saham lapis dua umumnya lebih tinggi dibanding saham big cap.

Dengan mempertimbangkan prospek fundamental dan valuasi saat ini, Abida menyarankan buy saham AMRT, SMDR, HRTA dan PNLF di target harga masing-masing Rp 2.000, Rp 450, Rp 2.400 dan Rp 300.

Baca Juga: Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur dari OJK

Selanjutnya: Pegadaian Siapkan Pendanaan Jelang Ramadan, Antisipasi Lonjakan Permintaan Pembiayaan

Menarik Dibaca: KAI Catat 131 Ribu Tiket KA untuk Angkutan Lebaran Telah Dipesan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×