kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Intip Kinerja Operasional Medco Energi (MEDC) Hingga September 2023


Sabtu, 04 November 2023 / 15:20 WIB
Intip Kinerja Operasional Medco Energi (MEDC) Hingga September 2023
ILUSTRASI. Medco Energi (MEDC) memberikan rincian kinerja operasional dalam sembilan bulan pertama 2023


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melaporkan hasil kinerja operasional sejumlah lini usahanya per akhir September 2023

Di segmen minyak dan gas (migas), produksi cenderung stabil secara year-on-year (yoy) di angka 161 million barrel of equivalent per day (mboepd), dengan biaya produksi sebesar US$ 7,5 per barrel oil equivalent (boe).

Namun, rata-rata harga minyak mengalami penurunan hingga US$ 24,1 per barel menjadi  US$ 77 per barel. Di periode yang sama tahun 2022, rata-rata harga jual minyak mencapai US$ 101,1 per barel. MEDC menyebut harga minyak telah pulih ke level US$ 80 per barel di kuartal III-2023.

Belanja modal alias capital expenditure (capex) di bisnis minyak & gas sebesar US$ 155 juta, terutama untuk penyelesaian beberapa proyek pembangunan di Blok Natuna dan Corridor.

Sementara itu, pembaruan gas sales agreement (GSA) domestik blok Corridor sedang berlangsung dan diperkirakan akan ditandatangani sebelum akhir tahun.

Baca Juga: Ini Penyebab Laba Bersih Medco Energi (MEDC) Tergerus Hingga 39,5%

Di bisnis ketenagalistrikan, Medco Power menghasilkan penjualan sebesar 3.079 gigawatt hour (GWh), dimana 20% berasal dari sumber energi terbarukan. Penjualan ini meningkat 5% dibandingkan tahun lalu, berkat kontribusi independent power producer (IPP) berbahan bakar gas di Riau sebesar 275 megawatt (MW) dan fasilitas pembangkit listrik tenaga surya di Sumbawa sebesar 26 megawatt peak (MWp).

Adapun realisasi harga listrik rata-rata adalah 3,7 per sen dolar AS, di luar biaya bahan bakar atau naik 2,8% dibandingkan tahun lalu.

Belanja modal yang dihabiskan untuk bisnis ketenagalistrikan sebesar US$ 55 juta, terutama untuk menyelesaikan pengembangan pembangkit listrik geothermal Ijen 34 MW yang dijadwalkan selesai pada Desember 2024. Medco juga melakukan penandatanganan kemitraan baru dengan Mitsui Oil Exploration Co  (MOECO) untuk mengevaluasi aset Geothermal Bonjol.

Di bisnis mineral melalui PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN),  MEDC memproduksi tembaga sebesar 199 juta pon  (Mlbs), dan produksi emas sebesar 259  kilo oz (Koz), dengan realisasi harga rata-rata tembaga adalah US$ 4,0 per pon.

 

“Pembangunan smelter berjalan sesuai jadwal, diperkirakan akan mencapai progres lebih dari 70% pada akhir tahun,’ kata Roberto Lorato, CEO Medco Energi, Kamis (2/11).

MEDC juga telah menentukan target kinerja sampai akhir tahun ini. Produksi minyak dan gas ditargetkan 160 mboepd, dengan biaya produksi minyak & gas di bawah US$ 10 per boe. Total belanja modal minyak & gas sebesar US$ 250 juta.

Sementara itu penjualan ketenagalistrikan diproyeksi mencapai 4.000 GWh dengan anggaran capex US$ 80 juta.

Analis Trimegah Sekuritas Alpinus Dewangga menyematkan rating buy saham MEDC dengan target harga Rp 1.900 per saham. Salah satu pendorong kinerja MEDC adalah aksi MEDC mengakuisisi 20% hak partisipasi non-operasional aset migas di Timur Tengah MEDC.

Ada juga potensi perpanjangan kontrak/penetapan harga antara blok Corridor dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Dewangga memperkirakan blok Corridor akan menyumbang 46% dari produksi konsolidasi Migas MEDC pada tahun 2024 dan memberikan kontribusi terhadap 35% terhadap pendapatan MEDC.

Baik PGAS dan MEDC saat ini sedang melakukan negosiasi perpanjangan Gas Sale and Purchase Agreement (GSPA), karena sebagian besar volume kontraknya berakhir pada 30 September 2023, dan sisanya akan berakhir pada 19 Desember 2023.

Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Bakal Bagikan Dividen Interim, Ini Besarannya

Emiten besutan Hilmi Panigoro ini juga diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah Brent telah berada di atas level US$ 90 per barel selama sepekan terakhir karena adanya pengetatan permintaan dan pasokan serta meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Proyeksi Dewangga, dalam hal penetapan harga, sebanyak 42% produk MEDC akan dijual dengan harga yang di indeks ke harga minyak, sedangkan 58% sisanya dijual dengan harga tetap pada tahun depan.

“Model kami menunjukkan perubahan harga minyak sebesar 1% akan menghasilkan perubahan laba bersih MEDC sebesar 1,6% pada 2024,” tulis Dewangga dalam riset, Senin (30/10).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×