kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Instrumen saham dan obligasi jadi pilihan menarik selama pesta demokrasi


Kamis, 11 April 2019 / 18:16 WIB
Instrumen saham dan obligasi jadi pilihan menarik selama pesta demokrasi

Berita Terkait

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seminggu menjelang pesta demokrasi, investor domestik cenderung wait and see menunggu hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Lain halnya dengan investor asing yang memandang prospek investasi di Indonesia lewat fundamental Tanah Air yang cenderung masih positif.

Executive Vice President PT Schroders Investment Management Indonesia M Renny Raharja menjelaskan, dalam kacamata investor asing, kondisi fundamental Indonesia cukup solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5% dan pergerakan nilai tukar rupiah yang stabil.


"Kalau dibandingkan dengan investor asing, investor domestik justru yang cenderung naik turun karena sentimen pemilu ini. Jadi, kalau rupiah stabil dan ekonomi tumbuh positif, kita masih akan dilirik dan arus inflow masih terjadi," kata Renny, Kamis (11/4).

Selain itu, Renny mengungkapkan bahwa mayoritas investor saat ini cenderung melihat bahwa calon presiden tahun ini masih dipegang kuat oleh petahana. Hanya saja, tanpa melihat siapa yang akan menjadi jawara pesta demokrasi tahun ini, pasar diprediksi akan tetap bergejolak usai pengumuman hasil pemilu.

"Masalahnya bukan siapa yang menang, tapi apakah kondisi tetap stabil atau tidak usai pemilu. Tapi secara umum, biasanya sepekan pertama market akan konsolidasi dan kecenderungan profit taking lebih dulu," jelasnya.

Untuk itu, siapapun yang memenangkan pesta demokrasi pasar akan tetap bergejolak. Namun, dengan kondisi fundamental Tanah Air yang cenderung positif diyakini foreign direct investment (FDI) masih akan masuk.

Kabinet atau menteri yang akan mewakili pemerintahan selanjutnya turut menjadi perhatian investor selanjutnya. Adapun aset yang direkomendasikan Schroders di tengah pesta demokrasi yakni reksadana saham dan reksadana berbasis obligasi.

Alasannya, pasar obligasi masih didukung beberapa sentimen positif seperti rupiah yang menguat, inflasi terjaga dan jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan tahun ini, bisa menjadi bonus tambahan untuk pasar obligasi.

Sedangkan untuk saham, Schroders menilai dengan stabilitas ekonomi yang tejaga, pertumbuhan laba emiten kondusif dan ditambah potensi sentimen politik bisa membawa keyakinan terhadap fundamental Tanah Air yang lebih positif ke depan bakal menjadi angin segar.

"Namun bagi investor yang tidak ingin ambil pusing terkait risiko siapa yang bakal menjadi pemenang pemilu, bisa memilih reksadana campuran," saran Renny.




TERBARU

Close [X]
×