Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) Bursa Efek Indonesia tahun 2021 mencapai Rp 8.284 triliun, naik 18,85% ketimbang posisi akhir tahun 2020 yang sebesar Rp 6.970 triliun.
Sampai akhir Desember 2021, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih bertengger di posisi pertama dengan market cap senilai Rp 899,91 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 622,91 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan market cap sebesar Rp 400,21 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 327,83 triliun, dan PT Astra International Tbk (ASII) dengan nilai Rp 230,76 triliun.
Selanjutnya ada PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan kapitalisasi pasar Rp 221,70 triliun, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dengan market cap Rp 158,42 triliun, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) 156,80 triliun, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan market cap Rp 139,63 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan nilai Rp 125,88 triliun.
Associate Director of Research and Investment Maximilianus Nico Demus mengatakan, prospek saham-saham dengan kapitalisasi pasar jumbo tersebut masih sangat baik pada tahun 2022.
“Karena tidak hanya fundamentalnya saja yang baik, tapi punya potensi valuasi di masa yang akan datang. Apalagi tahun 2022 yang penuh harapan, dimana sektor perbankan mencoba untuk mendominasi,” ungkapnya kepada Kontan.co.id, Minggu (2/1).
Baca Juga: Tertekan 0,37% Sejak Awal 2021, Indeks LQ45 Berpeluang Membaik pada 2022
Oleh karena itu, saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan ARTO masih menjadi salah satu primadona pada tahun ini. Ia bilang, pada tahun pemulihan ekonomi tentu akan mendorong aktivitas dan mobilitas masyarakat.
“Secara otomatis transaksipun juga mengalami peningkatan, nah masih kita perhatikan juga suku bunga kredit diharapkan akan mengalami kenaikan karena kalua dilihat tahun ini daya beli mengalami kenaikan,” tambahnya.
Di tengah pemulihan ekonomi, Nico bilang, diharapkan penyaluran kredit akan meningkat. Sejauh ini, Nico melihat belum ada sentimen negatif yang mampu menghalangi potensi pertumbuhan tersebut. Hanya saja munculnya vairan baru Omicron bisa mempengaruhi prospek pemulihan ekonomi ini.
Dari sektor perbankan, Nico menjagokan saham-saham seperti BBRI dan BBCA, kemudian ia juga memilih EMTK, dan TLKM.
Adapun target harga untuk BBRI berada di Rp 4.885, BBCA dengan target harga di Rp 7.881, EMTK dengan target harga di Rp 3.000, dan TLKM di harga Rp 4.734.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














