Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Berdasarkan data pasar pukul 14.02 WIB, IHSG anjlok 2,22% atau 131,84 poin ke level 5.811,19.
Tekanan pasar terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan pasar turut memengaruhi pandangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan. Perkembangan tersebut mengubah ekspektasi pasar terhadap langkah moneter yang akan ditempuh bank sentral AS.
Baca Juga: Hadapi Dinamika Pasar di Kuartal IV-2026, Begini Strategi Investasi dari AllianzGI
“Rilis inflasi yang lebih panas dari proyeksi konsensus ini dengan cepat membalikkan ekspektasi kebijakan moneter The Fed,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) naik 0,6% secara bulanan (month-on-month/MoM) dan 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026.
Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh lonjakan harga bensin sebesar 9,1% secara bulanan serta peningkatan harga energi secara keseluruhan. Perkembangan ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan 28 Oktober 2026.
Nafan bilang, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed meningkat menjadi sekitar 32,7% berdasarkan CME FedWatch Tool. Perubahan ekspektasi itu turut tercermin pada pasar obligasi AS, dengan imbal hasil US Treasury tenor dua tahun menguat 0,27% ke level 4,806%.
Selain inflasi AS, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Eskalasi serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menyasar fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran turut meningkatkan ketidakpastian di pasar komoditas.
“Dinamika pasar komoditas dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut membuat kondisi pasar global semakin kompleks,” tutur Nafan.
Di pasar minyak, harga Brent naik 0,45% menjadi US$ 106,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,07% ke level US$ 95,17 per barel.
Kenaikan harga minyak di tengah konflik geopolitik berpotensi menambah tekanan inflasi global apabila berlangsung berkelanjutan. Kondisi tersebut membuat arah kebijakan suku bunga bank sentral dan perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
Perkembangan kedua sentimen tersebut menjadi perhatian investor dalam menilai arah pasar keuangan global, termasuk pergerakan IHSG.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,16% ke 5.814 di Sesi I Kamis (15/10), HRTA, GOTO, DEWA Top Losers LQ45
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














