kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.101   5,00   0,03%
  • IDX 6.131   -55,20   -0,89%
  • KOMPAS100 800   -7,14   -0,88%
  • LQ45 608   -4,53   -0,74%
  • ISSI 212   -1,96   -0,92%
  • IDX30 342   -2,78   -0,81%
  • IDXHIDIV20 423   -3,94   -0,92%
  • IDX80 91   -0,74   -0,80%
  • IDXV30 116   -0,67   -0,57%
  • IDXQ30 110   -0,83   -0,75%

​INDY & NCKL Masuk Blue Chip LQ45, Analis Lebih Jagokan Saham Indika Energy, Kenapa?


Rabu, 29 Juli 2026 / 07:02 WIB
​INDY & NCKL Masuk Blue Chip LQ45, Analis Lebih Jagokan Saham Indika Energy, Kenapa?
ILUSTRASI. ?INDY & NCKL Masuk Blue Chip LQ45, Analis Lebih Jagokan Saham Indika Energy, Kenapa?


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi merombak komposisi Indeks LQ45 yang akan berlaku efektif mulai 3 Agustus 2026. Dalam evaluasi kali ini, PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi dua saham yang masuk ke dalam jajaran saham unggulan LQ45, menggantikan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Indeks LQ45 adalah salah satu indeks mayor di BEI yang mengukur kinerja harga dari 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik. 

Masuknya INDY dan NCKL ke indeks bergengsi tersebut tentu menjadi sorotan investor. Namun, di antara dua pendatang baru tersebut, analis menilai saham INDY memiliki prospek yang lebih menarik untuk dikoleksi dibandingkan NCKL.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan prospek kinerja INDY pada semester II-2026 masih cukup konstruktif. Menurutnya, bisnis batu bara termal masih menjadi mesin penghasil arus kas yang solid di tengah tingginya harga komoditas akibat war premium.

Di sisi lain, diversifikasi bisnis Indika Energy ke sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan energi terbarukan menjadi katalis jangka panjang yang berpotensi memberikan rerating terhadap valuasi saham perseroan.

"Segmen batu bara masih menjadi penopang utama arus kas, sementara diversifikasi ke EV dan renewable menjadi long-dated rerating catalyst," ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (28 Juli 2026), ANTM dan BUMI Jadi Sorotan

Meski demikian, Wafi mengingatkan bahwa INDY merupakan saham dengan karakteristik high beta sehingga pergerakannya cenderung lebih volatil dibandingkan pasar. Apabila harga batu bara mulai mengalami normalisasi atau war premium mereda, potensi koreksi harga saham INDY juga bisa terjadi secara tajam.

Sementara itu, prospek NCKL dinilai lebih menantang. Wafi melihat masuknya saham NCKL ke LQ45 lebih banyak didorong oleh lonjakan likuiditas perdagangan di pasar ritel dibandingkan perbaikan fundamental yang signifikan.

Menurutnya, industri nikel global masih menghadapi tekanan oversupply struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Kondisi tersebut tercermin dari harga nikel yang masih berada di kisaran US$ 16.000 per ton.

"NCKL merupakan nama yang paling challenging di antara pendatang baru LQ45. Likuiditasnya meningkat signifikan, tetapi tekanan oversupply nikel masih menjadi tantangan," katanya.

Meski PT Trimegah Bangun Persada Tbk memiliki fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang mampu menghasilkan battery-grade nickel, perlambatan permintaan kendaraan listrik global membuat premium valuasi yang diharapkan belum sepenuhnya terealisasi.

"HPAL battery-grade nickel memang menjadi pembeda, tetapi pertumbuhan permintaan EV global yang lebih lambat dari ekspektasi mengurangi urgensi premium tersebut," imbuh Wafi.

Tonton: LPS Ungkap Tabungan Warga Terus Naik Tanda Daya Beli Mulai Pulih

Dari sisi rekomendasi investasi, Wafi lebih menjagokan saham INDY dibandingkan NCKL untuk dicermati investor pada semester II-2026. Adapun target harga saham INDY masih dalam tahap peninjauan (under review).

Dengan kombinasi arus kas yang masih kuat dari bisnis batu bara serta diversifikasi ke sektor energi masa depan, INDY dinilai memiliki katalis pertumbuhan yang lebih jelas. Sebaliknya, investor yang mencermati NCKL perlu mewaspadai tekanan dari kondisi fundamental industri nikel global yang masih menghadapi tantangan oversupply.

Masuknya kedua saham tersebut ke dalam Indeks LQ45 memang berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan faktor fundamental dan prospek bisnis masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.



 

BGN Larang Dapur MBG Pakai Gas Melon dan Minyakita, Sudaryono Bandel, Tutup Permanen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×