kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.665
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS608.023 -0,17%

Industri poultry bergejolak, analis optimistis kinerja emiten masih kuat

Jumat, 13 Juli 2018 / 10:09 WIB

Industri poultry bergejolak, analis optimistis kinerja emiten masih kuat
ILUSTRASI. Proses pemotongan ayam di PT. Ciomas Adisatwa (JAPFA Group)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat terpukul kenaikan harga daging ayam dan telur yang tidak kunjung turun setelah Lebaran 2018. Penguatan dollar AS menjadi salah satu faktor yang menggerus kinerja emiten poultry yang banyak bergantung pada pakan impor. Namun, analis meyakini, kinerja emiten industri poultry bakal stabil ke depannya.

Analis Danareksa Sekuritas Adeline Solaiman menjelaskan, setidaknya terdapat empat faktor yang jadi faktor utama melonjaknya harga komoditas perunggasan. Yakni berupa nilai tukar kurs dollar ke rupiah, harga pakan ternak, harga jagung dan harga ayam broiler serta day old chicken (DOC). 

"Dari awal tahun dollar sudah naik, impact-nya baru akan terasa per tiga bulan atau akhir dan awal tiap kuartal," jelasnya kepada Kontan.co.id, Kamis (12/7).

Apalagi pakan ternak yang mana banyak menggunakan fasilitas impor menjadi sektor yang juga mendominasi. Kontribusi pakan kedelai bungkil menguasai 30-35% harga pokok penjualan (COGS) dan jagung sebanyak 50%.

Mengingat stok kedelai bungkil didapat dari impor, penguatan dollar jadi beban dalam komponen kurs. Artinya emiten harus aktif melakukan strategi hedging kurs tukar agar tidak tergerus oleh penguatan dollar, tidak hanya pada sisi perdagangan namun juga untuk emiten poultry yang memiliki obligasi dalam valuta asing.

Sedangkan untuk jagung yang berasal dari produksi nasional, Adeline melihat emiten mengakali potensi kekurangan stok jagung dengan berlomba-lomba membangun gudang penampungan jagung alias corn silo.

"Bagi perusahaan memiliki makin banyak silo akan makin baik karena artinya dia mengutamakan food safety untuk pakan ayam," jelasnya.

Namun di tengah sentimen negatif penguatan dollar, Adeline yakin industri poultry bakal tumbuh berkat harga ayam broiler dan DOC yang jadi relatif tinggi. Ibaratnya, terjadi subsidi beban kurs dengan harga jual produk jadi yang lebih tinggi. Dalam perhitungannya, pada periode year-to-date hingga Juni, harga ayam broiler mengalami kenaikan sebesar 21,5% dan DOC naik 21,4%.

Tren tersebut naik cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi indikasi sisi positif dari inflasi harga yang membuat Adeline tidak mengkoreksi valuasi industri tersebut. Bahkan, ia mempertahankan penilaian netral ketimbang menurunkannya ke overweight.

Atas pertimbangan tersebut, Adeline menjagokan emiten JPFA yang memiliki harga saham murah namun prospektif. Untuk target full year 2018, ia menyarankan buy JPFA Rp 1.850, hold CPIN Rp 4.000 dan hold MAIN Rp 860.

 

Reporter: Tane Hadiyantono
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Video Pilihan

Tag
TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0017 || diagnostic_api_kanan = 0.0552 || diagnostic_web = 0.3792

Close [X]
×