kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IndoSterling Aset Manajemen menargetkan dana kelolaan Rp 200 miliar di akhir tahun


Kamis, 29 Agustus 2019 / 19:16 WIB
IndoSterling Aset Manajemen menargetkan dana kelolaan Rp 200 miliar di akhir tahun
ILUSTRASI. Fitzgerald Stevan Purba, Direktur Indosterling Asset Management

Reporter: Dimas Andi | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. IndoSterling Aset Manajemen menargetkan mampu menghimpun total dana kelolaan atau asset under management (AUM) sekitar Rp 200 miliar hingga akhir tahun ini.

Direktur IndoSterling AM Fitzgerald Stevan Purba menyebut, target dana kelolaan tersebut lebih bersifat harapan dan bukan sesuatu yang wajib dicapai. Ini mengingat IndoSterling AM masih tergolong baru sebagai sebuah perusahaan manajer investasi. “Kami masih fokus pembenahan internal dahulu,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (29/8).

Baca Juga: IndoSterling Asset Manajemen luncurkan fasilitas untuk berinvestasi sembari beramal

Untuk saat ini, dia bilang total dana kelolaan IndoSterling AM kurang lebih sekitar Rp 30 miliar. Jumlah ini berasal dari reksadana pasar uang dan reksadana saham.

Karena jarak dengan target dana kelolaan masih cukup jauh, Stevan mengaku pihaknya tidak muluk-muluk mengejar target tersebut. Namun, sejumlah upaya tetap dilakukan manajer investasi ini untuk menambah dana kelolaan. Misalnya dengan meluncurkan produk baru seperti reksadana terproteksi dan reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Kedua jenis produk reksadana ini dianggap lebih mudah dalam menjaring dana kelolaan dalam jumlah besar. Ini dengan catatan manajer investasi bisa menggaet investor potensial secara tepat.

Baca Juga: Direktur Utama Indosterling Mengelola Properti Demi Cuan Lebih Besar

Stevan mengatakan, pihaknya masih menjajaki penerbitan kedua reksadana tersebut. Lebih khusus untuk reksadana terproteksi, kondisi pasar obligasi terkini akan sangat mempengaruhi tiap manajer investasi dalam merilis instrumen tersebut.

Apalagi, suku bunga acuan sudah turun dua kali di tahun ini sehingga berpotensi membuat yield obligasi ikut bergerak turun. “Ketika suku bunga acuan turun, investor justru masih menginginkan yield tinggi. Ini membuat kami perlu berhati-hati sebelum meluncurkan reksadana terproteksi baru,” ungkap dia.




TERBARU

Close [X]
×